Anak Sebagai Teman? Kenapa Tidak? Kita Hanya Manusia

Mungkin tidak biasa di Indonesia untuk menjadikan anak sebagai teman. Masyarakat Indonesia sering secara tidak sengaja menjadikan anak sebagai bawahan dari orangtua.

Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa mereka harus selalu berada pada posisi teratas dalam hierarki keluarga. Sebagai hasilnya, perintah mereka seringkali tidak boleh dibantah atau ditentang sama sekali.

Perintah atau omongan orangtua adalah suara Tuhan.

Padahal, tidak beda dengan anak, orangtua adalah tetap manusia. Yang namanya manusia pada dasarnya adalah setara. Tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan yang lain.

Bahkan dalam sebuah keluarga.

Posisi sebagai orangtua memang memberikan hak kepada orangtua menjadi pemimpin bagi yang lebih muda. Tetapi, hak ini tidak bersifat abadi. Tidak ada yang abadi di dunia.

Hak itu akan segera berakhir ketika sang anak beranjak dewasa dan memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri. Pada saat itu, hak untuk mengatur atau memilih yang terbaik untuk dirinya kembali pada sang pemilik, yaitu si anak tersebut.

Pada saat itu biasanya, ia sudah memiliki kemampuan yang setara, bahkan lebih dari orangtuanya sendiri. Posisi mereka sudah berubah dan bertambah. Bila sebelumnya hanya sebagai orang yang harus selalu patuh, mirip seperti bawahan. Peran tersebut berubah.

Sang anak memiliki peran baru sebagai teman, partner, pengganti dari peran sebagai orang yang harus tunduk dan selalu patuh pada orangtua. Posisinya menjadi seimbang mengingat dari berbagai segi, termasuk pengetahuan, materi dan lainnya, sang anak sudah setara dengan orangtuanya.

Apakah berarti seorang anak tidak perlu menghormati orangtuanya setelah dewasa? Tentu saja tidak. Dalam masyarakat tetap ada aturan untuk menghormati yang lebih tua. Dalam hubungan antar teman pun tetap ada asas saling menghormati.

Jadi tidak selamanya orangtua harus merasa posisinya dalam keluarga selalu berada di atas. Ada saatnya posisi mereka sama dengan anaknya yang memungkinkannya untuk saling berteman satu dengan yang lainnya.

Memang, pandangan ini masih bukan sesuatu yang umum. Tetapi, saya pikir seharusnya bukanlah sebuah masalah. Anak sebagai teman tidak berarti membuat Anda kehilangan anak karena mereka tetap ada. Yang berubah hanyalah Anda memiliki tambahan seorang teman lagi.

Saya punya satu anak merangkap teman di rumah. Bagaimana dengan Anda?



Subscribe to receive free email updates: