Ironi Bulan Puasa : Orang Makin Tidak Sabaran Dan Cenderung Makin Egois

Ironi Bulan Puasa : Orang Makin Tidak Sabaran Dan Cenderung Makin Egois

 

Ini foto pemandangan di pertigaan Jalan Wahid Hasyim yang mengarah ke Gondangdia, sore ini. Hari ke-4 bulan suci Ramadhan atau bulan puasa. Dipotret memakai Xperia M alias kamera smartphone saja. Tidak begitu tajam tetapi tak apalah, setidaknya cukup mewakili apa yang ingin disampaikan.

RUWET? Ya sangat.

Seperti tidak ada aturan. Seperti di dalam hutan rimba dimana yang kuat dia yang menang. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang ingin kalah. Semua ingin "menang".

Pemandangan seperti ini rutin terjadi sehari-hari, tetapi semakin parah di sore hari di bulan suci Ramadhan. Kekacauan semakin tidak terkontrol. Semuanya ingin cepat.

Entah apa yang membuat justru di saat menjelang berbuka puasa kondisinya semakin semrawut. Mungkin karena semua ingin cepat sampai di rumah. Semua ingin bisa berbuka bersama keluarga. Semua ingin bisa menunaikan ibadah sholat Tarawih di mesjid.

Tetapi, apakah demi tujuan mulia, "beribadah" maka kita berhak menjadi egois. Berhak melanggar semua aturan yang ada?

Bukankah di selama berpuasa kita diminta untuk mampu menahan diri dari segala godaan hawa nafsu. Nafsu makan atau minum adalah sebuah hal yang memang harus ditahan. Kalau tidak berarti batal puasa kita.

Hanya, apakah keinginan untuk mendapatkan pahala lebih besar bisa dimasukkan sebagai hawa nafsu? Mungkin akan banyak yang memprotes bila saya mengatakan demikian, tetapi apa yang terlihat di jalan, dalam foto ini, memperlihatkan bahwa justru keinginan tersebut yang membuat orang seperti gelap mata.

Mereka tidak lagi peduli terhadap aturan. Mereka tidak lagi peduli untuk memberikan orang lain hak untuk memakai jalan. Mereka tidak peduli bahwa apa yang mereka lakukan mengganggu orang lain. Sama sekali tidak terlihat semua hal yang menunjukkan adanya usaha menahan hawa nafsu.

Dalihnya memang sahih, demi niat ibadah. Hanya bolehkah kita beribadah di saat yang lain merugikan orang lain dengan tindakan kita?

Saya rasa tidak.

Itulah ironi bulan puasa di Jakarta yang terlihat setiap tahunnya. Ketika niat beribadah membuat manusia menjadi sama sekali tidak peduli akan keberadaan orang lain. Ketika hubungan kepada Allah SWT diutamakan tetapi hubungan sesama manusia diabaikan.

Ironis sekali!


Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar


Silakan berkomentar yang sopan dan jangan meninggalkan link aktif karena akan langsung dikategorikan sebagai spam dan didelete.

Mohon maaf kalau terkadang admin tidak ada balasan dari admin karena terkadang ada komentar yang dirasa hanya pernyataan dan tidak perlu direspon