Menjadi Penulis Atau Pemilik Media : Membeli Artikel Atau Tidak

Memang, saya sedang berada di persimpangan jalan.

Beberapa pertanyaan terkait dengan kegiatan blogging sudah mulai bermunculan, Tekanan keinginan untuk segera mendapatkan penghasilan dari ngeblog semakin lama semakin deras.

Pertanyaan yang timbul, yang paling mengganggu adalah "Haruskah membeli artikel?"

Bukan masalah keuangan yang mengganggu. Dengan keuangan rumah tangga yang cukup lancar masih tersisa cukup dana bahkan untuk membeli sekaligus 300 artikel bahasa Inggris dengan 600 kata. Apalagi, beberapa waktu lalu penghasilan dari Adsense sudah mulai mengalir, walau angkanya tidak besar tetap cukup untuk membeli 200 artikel.

Pertanyaan itu lebih mengarah pada sisi idealisme yang saya inginkan. Sebagai seorang blogger, tentu bisa dianggap sebagai penulis, maka pekerjaan yang harus dilakukan adalah menulis, melahirkan artikel baru.

Itu idealnya.

Permasalahan sekarang adalah waktu yang tersedia tidak mencukupi. Dengan 4 buah blog yang dikelola, butuh belasan atau puluhan artikel untuk mengisinya setiap hari. Paling tidak, masing-masing harus diisi 1 artikel setiap harinya.

Bukan sebuah masalah besar seharusnya. Menghasilkan 4 buah artikel setiap malam rasanya masih dalam jangkauan. Hal ini sudah dilakukan hingga saat ini.

Masalahnya adalah ternyata benar bahwa jumlah 1 artikel perhari untuk pengisi blog ternyata sangat kurang. Betul sekali, kurang. Grafik pengunjung menunjukkan hal tersebut.

Grafiknya sangat landai dengan tendensi kenaikan yang sedikit. Hanya terkadang, pada momen tertentu ada "spike" alias kenaikan drastis, tetapi setelah momen dadakan itu lewat, situasi kembali normal dan grafik melandai.

Hal ini berbeda ketika saya memposting paling tidak 2-3 artikel dalam sehari dan dilakukan selama beberapa bulan. Jumlah trafik terlihat agak melonjak lebih cepat. Meskipun kata para master blogger, memposting artikel setiap hari adalah sebuah kesalahan, saya memutuskan tidak percaya pada perkataan itu. Jumlah artikel sangat berpengaruh kepada trafik.

Semakin banyak artikel, maka trafik akan berjalan paralel. Buktinya memang sudah ada di depan mata dari hasil ngeblog selama ini.

Nah, berarti kalau mau cepat mendapat lebih banyak trafik, maka harus ada peningkatan posting artikel dari 1 buah per hari menjadi 3-4 buah.

Kalau dibuat sendiri, tentu sulit karena keterbatasan waktu. Kecuali saya sudah memutuskan menjadi full time blogger, maka hal tersebut adalah sebuah hal yang sulit dipecahkan. Jadi, pilihan satu-satunya adalah dengan membeli artikel.

Sementara kalau, saya akhirnya membeli artikel dari jasa penulis lain, maka berarti idealisme saya sebagai penulis tidak berlaku lagi. Saya bukan lagi murni penulis, saya justru sudah beralih menjadi pemilik media, walau kecil.

Pusingnya lagi, artikel tersebut harus saya akui sebagai hasil karya saya. Padahal bukan. Tentu, saya sudah membayar yang berarti artikel sudah menjadi hak milik. Meskipun demikian, ada rasa mengganjal di hati tentang mengakui karya orang lain sebagai hasil sendiri.

Harus yang mana yang saya pilih?

Entah lah.

Sementara ini saya masih menunda untuk membeli artikel. Ada rasa sayang dan tetap tidak mau kehilangan kesenangan yang didapat dari menulis. (Lihat artikel ini)

Mungkin suatu waktu. Tetapi mungkin tidak dalam jangka waktu dekat ini.

0 Response to "Menjadi Penulis Atau Pemilik Media : Membeli Artikel Atau Tidak"

Posting Komentar


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel