Kalau Mau Lancar, Tunggu Giliran dan Patuhi Aturan, Jangan Mau Menang Sendiri

Banyak keluhan masyarakat terhadap pemerintah, bahwa mereka merasa bahwa jalanan terlalu macet dan semrawut. Mereka sering menyalahkan kurang sigapnya petugas dan aparat sebagai biang keladinya dan tidak lupa menggerutu bahwa pemerintah tidak becus untuk menyediakan fasilitas yang mencukupi bagi rakyatnya.

Sayangnya, kebanyakan dari mereka tidak pernah melakukan introspeksi diri. Banyak kemacetan disebabkan karena ketidaksabaran mereka sendiri sebagai pengguna jalan. Tidak jarang di jalanan terlihat saling serobot dan menutupi jalur dari arah lain hanya karena mereka ingin cepat.

Hal itu terjadi di banyak kota, termasuk di Bogor, kota dimana saya tinggal. Salah satu titik kemacetan yang paling parah adalah di Jalan RE Martadinata, dimana terdapat pintu perlintasan kereta sebidang.

Fotonya seperti ini.


Ruwet bin semrawut.

Banyak keluhan di media sosial dan menyalahkan pemerintah Kota Bogor tidak mampu memecahkan masalah itu. Padahal kenyataannya, mereka yang mengeluh dan mencerca sebenarnya adalah bagian dari masalah itu sendiri.

Mereka tidak sabar dan tidak mau menunggu giliran. Acapkali mereka menerabas dan menutupi jalur yang seharusnya dipakai oleh kendaraan dari arah yang berlawanan hanya agar bisa berada di posisi paling depan. Hasilnya semua tersendat dan tidak satupun yang bisa cepat, semua terhambat.

Mereka lupa bahwa dengan melakukan itu hak pengguna jalan yang lain dirampas dan justru menimbulkan kekacauan. Mereka lupa bahwa kalau mau lancar dan cepat semua harus bekerja sama, menunggu giliran, dan mematuhi aturan yang ada.

Tidak akan ada kelancaran jika tidak ada kerjasama. Sikap mau menang sendiri hanya akan menghasilkan khaos dan kekacauan dimanapun.

Subscribe to receive free email updates: