Mengenal si Guiding Block, Sang Jalur Ramah Disabilitas Untuk Tunanetra

Pastilah kota menyadari bahwa belakangan ini, entah di stasiun, trotoar atau fasilitas umum lainnya, ada satu tambahan yang agak berbeda. Tambahan itu berupa "garis" dengan lebar kurang lebih 20-30 centimeter dan memanjang dengan permukaan yang tidak rata mengikuti panjang trotoar atau tempat untuk berjalan.

Lihat foto di trotoar dekat stasiun Gondangdia ini (Jalan Srikaya dekat Gedung MNC.

Guiding block atau jalur ramah disabilitas tuna netra

Atau di stasiun Cilebut


Garis itu bukanlah garis sembarangan dan dikenal sebagai Guiding Block. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Jalur Ramah Disabilitas (Tuna Netra).

Dengan adanya jalur ramah disabilitas ini, seorang penyandang tuna netra tahu kapan harus lurus dan mengikuti garis dan kapan harus berhenti.

Hal itu bisa dilakukan karena, guiding block terdiri dari dua jenis. Yang pertama yang permukaannya ada tonjolan berbentuk persegi seperti pada foto pertama di atas. Jenis yang ini memberi sinyal bahwa si pejalan kaki tuna netra bisa terus berjalan mengikuti garis itu.

Nah, jenis satunya, yang permukaannya ada tonjolan berbentuk bulat, sepeti di bawah ini.


Bila menemukan guiding block yang seperti ini tandanya harus berhenti.

Dengan adanya guiding block ini para tuna netra akan memiliki panduan arah tanpa harus khawatir menabtak tembok atau terbentur sesuatu.

Oleh karena itu, tidak boleh ada rintangan di sepanjang jalur ini karena hal itu akan mengganggu para tuna netra. Sayangnya hal itu banyak ditemukan karena trotoarnya dijadikan temoat parkir sehingga fungai si guiding block menjadi tidak maksimal.

Sayang.

Subscribe to receive free email updates: