Pesan Pak Jokowi Supaya Kampanye Jangan Jadi Ajang Saling Cemooh dan Menjatuhkan Sulit Terlaksana

Pesan Pak Jokowi Supaya Kampanye Jangan Jadi Ajang Saling Cemooh dan M

Bukan pesimis. Tetapi, pesan presiden Indonesia ke-7 menjelang Pilkada Serentak 2018 supaya kampanye tidak menjadi ajang saling cemooh dan menjatuhkan jelas sangat sulit, jika tidak mau dikatakan impossible, alias tidak mungkin terlaksana.

Bukan karena hadirnya sosial media menyebabkan semua warga negara menjadi begitu aktif dalam mengemukakan pendapatnya. Bukan pula karena semua orang berhak mendukung siapapun yang dimauinya.

Semua lebih karena pada kodratnya politik itu sendiri yang mengutamakan yang namanya "kepentingan". Dalam politik dikenal pepatah " Tidak ada yang abadi dalam politik selain kepentingan itu sendiri".

Bukan tanpa dasar.

Karena politik sepertinya memang menghalalkan cara apapun selama kepentingan yang ditujunya teralisasi. Tidak masalah jika harus membuka keburukan calon pesaing, jika hal itu bisa membantunya memegang tampuk kekuasaan. Tidak masalah jika hidup seseorang hancur kalau hal itu bisa menjadi undakan menuju tangga kekuasaan.

Para pemikir tentu tidak akan berpendapat demikian. Mereka akan mengeluarkan sisi idealisme dari bagaimana seharusnya politik.

Meskipun demikian, di kalangan grass root atau akar rumput, masyarakat kebanyakan, hal itu tidak akan terdengar. Mereka tidak mengerti yang namanya etika dalam politik, apalagi banyak elite politik yang tidak memberikan contoh yang baik bagaimana politik seharusnya.

Oleh karena itu, tidak heran, jatuh menjatuhkan adalah sesuatu hal yang biasa ditemukan, apalagi di zaman sosial media berkuasa seperti sekarang. Berbagai usaha baik dari sekedar pendukung, hingga yang profesional menunjukkan bahwa kampanye adalah sebuah ajang untuk menjatuhkan lawan.

Bukankah dengan menjatuhkan lawan, maka dirinya akan menjadi lebih tinggi dari lawannya?

Jadi, sangat sulit untuk mewujudkan niatan baik dari Pak Jokowi agar kampanye lebih bersifat positif. Selama masih ada teknik yang lebih murah dan efisien, dibandingkan menurut kinerja, maka teknik itu akan dipakai. Kodratnya manusia.

Jadi, jangan berharap bahwa media sosial akan menjadi sepi dengan saling cemooh dan jatuh menjatuhkan. Hal itu akan terjadi, dan akan terus terjadi. Bisa dikata itu adalah takdir dari politik.

Bukan hanya di Indonesia saja yang mengalami. Di banyak negara maju sekalipun hal itu sudah diterima sebagai bagian dari dunia politik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel