Beberapa Detik Jelas Lebih Murah Dibandingkan Nyawa

Beberapa Detik Jelas Lebih Murah Dibandingkan Nyawa

Nyawa manusia lebih berharga dari berapapun uang di dunia ini. Kalimat semacam itu sih sepertinya sudah dimaklumi dan akan diamini milyaran orang di dunia. Tidak jarang orang berani mengeluarkan uang sampai milyaran rupiah untuk bisa menyelamatkan satu nyawa manusia saja. Pecinta binatang pun tak kalah, mereka tidak segan untuk melakukan hal-hal yang tidak terbayangkan untuk bisa menyelamatkan nyawa seekor binatang saja.

Ternyata dalam keseharian, banyak sekali tindakan manusia, terutama dalam masyarakat Indonesia yang bertentangan dengan apa yang biasa mereka katakan.

Contoh paling mudah bisa ditemukan pada berbagai pintu perlintasan kereta. Disana terlihat ironi dari apa yang disebutkan di atas.

Sebuah kereta berbobot puluhan ton dalam kecepatan tinggi tentunya akan bisa meremukkan apapun. Mobil, truk, atau sepeda motor akan hancur dalam sekejap begitu tertabrak kereta yang sedang melaju. Jangan tanya manusia, yang bisa langsung gepeng dan hancur berkeping-keping kalau sampai tersambar sang ulat besi.

Dan, nyawapun akan melayang. Entah kemana.

Semua juga tahu tentang hal ini.

Sayangnya, pengetahuan itu tidak diwujudkan dalam tindakan. Sudah seharusnya ketika sebuah kereta melintas, maka semua pengguna jalan lain harus menyingkir dan memberikan jalan. Untuk itulah di setiap perlintasan kereta akan disediakan palang pintu untuk mencegah kendaraan lain menyeberang karena bisa berbahaya.

Tetapi, dalam masyarakat Indonesia, yang tentunya tidak bodoh itu dan sudah mengetahui resikonya, hal itu tidak berlaku. Banyak sekali pengendara, terutama pengendara motor, yang mengabaikan sinyal yang diberikan saat pintu perlintasan menutup. Mereka memilih untuk menerobos dan berusaha berada di baris terdepan antrian pengguna jalan.

Tujuannya hanya agar mereka bisa segera melaju begitu kereta melintas dan mereka bisa menghemat waktu, yang tidak banyak sebenarnya. Mereka ingin menghemat beberapa detik dan terhindar dari keruwetan saat pintu perlintasan kerata dibuka.

Beberapa detik saja. Tidak banyak. Paling lama, kalaupun harus menunggu adalah beberapa menit saja. Tidak lama.

Jumlah waktu yang sama sekali tidak lama dan tentunya tidak sebanding dengan nyawa diri mereka sendiri. Beberapa detik itu tidak banyak, bahkan untuk ngupil sekalipun butuh waktu lebih lama daripada itu.

Tetapi, entah kenapa mereka merasa bahwa "beberapa detik" itu lebih berharga daripada sebuah nyawa yang tidak akan bisa digantikan. Beberapa detik yang hilang mungkin hanya membuat mereka sampai ke rumah pacar beberapa saat lebih lama. Mengingat kebiasaan jam karet orang Indonesia yang parah dan bisa sampai beberapa jam, seharusnya akan bisa dimaklum siapapun.

Entah mengapa banyak pengendara di Indonesia berpandangan bahwa beberapa detik itu lebih berharga daripada sebuah nyawa yang diberikan Allah SWT. Sebuah nyawa yang kalau tidak ada, maka tidak ada hal lagi yang berguna di dunia ini.

Mungkin, karena ada sesuatu yang konslet di kepala mereka lah yang membuat logikanya menjadi terbolak balik seperti ini.

Mungkin ya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel