Mempersilakan Orang Lain Duduk Ketika Ada Kursi Kosong Di Commuter Line

Mempersilakan Orang Lain Duduk Ketika Ada Kursi Kosong Di Commuter Line

Kemajuan. Biarlah orang lain mungkin memandang judul di atas lebay, tetapi bagi seorang veteran KRL (Kereta Rel Listrik) seperti saya hal sekecil itu sebenarnya sudah menunjukkan sebuah perubahan yang sangat berarti. Setidaknya masyarakat pengguna Commuter Line, nama keren KRL sekarang, sudah menunjukkan sebuah langkah kemajuan.

Bagi yang belum pernah naik kereta komuter Jabodetabek itu, mungkin tidak memahami apa yang tersirat dari sebuah kebiasaan baru, yaitu mempersilakan orang lain duduk ketika ada kursi kosong. Hal itu bisa dimaklumi karena, kemungkinan besar, mereka tidak mengerti betapa "ganas"nya para penumpang KRL kalau dalam urusan kursi atau tempat duduk.

Sudah terlalu banyak cerita dan berita bagaimana perebutan tempat duduk kerap menyebabkan para penumpangnnya kehilangan kemanusiaan. Bukan cerita baru pula, seorang anak mahasiswa sampai tega mengecam para ibu hamil hanya karena ia diminta berdiri untuk memberikan kursi yang didudukinya kepada wanita hamil.

Jangan hitung juga, orang yang kadang harus tersungkur hanya karena ingin bisa duduk selama perjalanan si CL. Tidak akan cukup memory card 16 GigaByte untuk merekam perseteruan dan perdebatan karena berebut tempat duduk.

Bisa dikata Commuter Line atau KRL, sejak masa dahulu kala adalah sebuah medan perang, yang ganasnya tidak kalah dari ganasnya gedung Dewan Perwakilan Rakyat, dalam urusan yang sama, perebutan kursi.

Kursi telah menyebabkan banyak manusia kehilangan kemanusiaannya, sekedar untuk duduk paling lama 2 jam saja.

Commuter Line jadi mirip hutan rimba. Tidak ada aturan dan tata tertib. Tidak ada norma dan sopan santun. Tidak ada toleransi dan empati. Egoisme terlihat hampir dimana-mana.

Itulah mengapa beberapa kejadian belakangan ini sedikit memberi angin segar, terutama bagi saya yang hingga saat ini masih menggunakan jasa sang kuda besi itu. Sudah beberapa orang yang menawarkan kepada saya, dan juga penumpang lainnya untuk menempati kursi yang kosong karena penumpangnya turun.

Tidak seperti biasanya, dimana ada tempat duduk kosong, langsung diduduki. Tetapi, sekarang kebanyakan orang, bahkan wanita akan mengedarkan pandangan berkeliling dan menanyakan apakah ada yang mau memanfaatkan bangku kosong itu. Padahal, kursi itu tepat di hadapannya.

Hal sederhana seperti itu menunjukkan hal besar, yaitu rasa toleransi, empati, serta kepedulian kepada orang lain. Sesuatu yang sering sirna karena keterdesakan (dan kaki yang pegal adalah sebuah keterdesakan juga).

Mungkin, belum banyak. Mungkin juga, kebetulan saya bertemu dengan orang-orang baik dan peduli. Tetapi, setidaknya hal kecil seperti itu sudah menjadi angin segar di dunia dimana keegoisan semakin bertahta.

Sebuah hal yang harus dianggap juga kemajuan bagi masyarakat pengguna jasa KRL dimana bibit-bibit norma, aturan, dan tata krama mulai tumbuh.

Semoga saja bibit-bibit itu terus berkembang subur dan menjadikan masyarakat pengguna Commuter Line sebagai masyarakat transportasi yang beradab dan penuh toleransi.

Semoga.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel