Bagaimana Sih Rasanya Menunggang Gajah?

Bagaimana Sih Rasanya Menunggang Gajah?

Bagaimana Sih Rasanya Menunggang Gajah?

Dulu, saya sering berpikir bagaimana sih rasanya menunggang gajah? Hewan darat terbesar itu menarik karena postur badannya yang besar. Juga tingginya lumayan juga. Berbeda dengan kerbau yang dulu sering saya naiki di lapangan, yang tanpa bantuan alat pun kita bisa naik ke punggungnya.

Rupanya, pertanyaan itu terjawab di saat saya berkesempatan jalan-jalan ke Phuket beberapa waktu yang lalu bersama dengan rekan-rekan sekantor saat perusahaan dimana saya bekerja mengadakan gathering para karyawannya. Phuket menjadi pilihan dan ternyata disana salah satu atraksi wisata yang ditawarkan adalah menunggang gajah menyusuri sungai kecil yang ada disana.

Pengalaman yang menarik.

Ternyata menunggang gajah itu mirip dengan naik perahu kecil di laut yang berombak.

Penumpang gajah akan didudukkan di bangku kayu (sadel kayu) yang berada di punggung dan si pawang duduk di kepala memberikan perintah.

Rasanya benar-benar seperti duduk di dalam perahu yang sedang terombang ambing ombak lautan. Badan bergoyang ke kanan dan ke kiri mengikuti ayun langkah kaki si gajah. Apalagi, jalur yang dilewati adalah sungai yang tidak rata. Jadilah kami bergoyang-goyang sepanjang perjalanan yang memakan waktu kurang lebih setengah jam.

Bagi yang mudah mual, siapkan saja obat anti mabuk yah. Lumayan juga trnyata goyangannya.

Menyenangkan? Ya jelas. Sebuah pengalaman baru yang memberikan jawaban terhadap keingintahuan saya.

Soal nyaman? Tidaklah. Duduk di bangku kayu saja sudah tidak enak, apalagi sambil bergoyang-goyang seperti itu. Terbayang kehidupan di masa lampau saat raja Hanibal menaklukkan Timur Tengah dengan menggunakan gajah, pastilah ia tidak merasa nyaman. Bahkan, dibandingkan naik angkot di Bogor yang kadang suka slengean itu, saya memilih naik angkot saja.

Hanya karena ini dalam perjalanan wisata, maka semua terasa menyenangkan.

Ditambah satu hal lagi yang membuat saya pikir angkot lebih enak. Hal itu adalah bau si gajah sendiri. Mirip dengan bau kerbau yang dulu sering saya naiki, hanya lebih keras. Maklum lah, ia pasti tidak sering mandi dan kalaupun mandi, pastinya tidak memakai Lux atau Lifebuoy.

Repot juga kalau kelamaan menunggang gajah.

Buat pengalaman saat berwisata, sangat menyenangkan menunggang gajah, tetapi kalau ada yang mau membalikkan zaman dan kembali menggunakan gajah sebagai alat transportasi, saya pilih berjalan kaki saja deh.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar