Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Bisa Menghargai Sejarahnya : KATANYA BEGITU

Bioskop President Bogor - Dulunya Bioskop Maxim dimana Presiden RI Pertama Pernah Berpidato
Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai sejarahnya. Entah siapa yang mengatakan slogan idealis itu, tetapi memang begitulah seharusnya sebuah bangsa.

Tidak ada bangsa di dunia yang dibangun dalam semalam. Bahkan Roma, sebuah kota saja tidak bisa dibangun dalam sekejap mata. Rumah dimana kita tinggal pun paling tidak membutuhkan 3 bulan untuk bisa berdiri. Apalagi sebuah bangsa dan negara. Perlu bertahun-tahun, berabad-abad untuk sebuah bangsa bisa tersebut namanya di dunia.

Dan, bukan hanya itu.

Berdirinya sebuah bangsa akan juga memerlukan tumbal lain, berupa harta, nyawa jutaan orang, tenaga, waktu, dan masih banyak hal lainnya dari  mereka yang berjuang mendirikannya. Tidak ada bangsa dan negara yang bisa berdiri secara gratis tanpa harus "membayar" biayanya.

Untuk itulah sebuah bangsa harus terus mengingat berapa banyak yang sudah dikorbankan. Dengan begitu mereka bisa melakukan tindakan-tindakan untuk menjaga dan terus mengembangkan bangsanya.

Secara sempit, tindakan ini mirip sekali dengan manusia ketika membeli Ferrari atau Lamborghini. Uang milyaran rupiah yang dikeluarkan tentunya akan membuat pemiliknya sayang dan berhati-hati sekali saat menggunakannya. Tergores sedikit saja sudah bisa membuatnya marah besar dan tidak bisa tidur. Kotor sedikit saja, bisa mendorong pemiliknya langsung panas dingin.

Begitupun dalam hal bangsa. Pengorbanan yang luar biasa besar itu seharusnya membuat semua anggota dari sebuah bangsa berusaha sebisa mungkin menyayangi dan menjaganya.

Itulah makna dari slogan nasionalis bin idealis itu.

Sayangnya, bangsa Indonesia rupanya masih perlu banyak belajar dalam hal ini. Slogan itu mudah sekali untuk diucapkan, seorang anak SD saja bisa mengatakannya 1000 X sehari kalau dijanjikan akan dibelikan Playstation 4. Mudah diucapkan.

Tetapi, sangat sulit diwujudkan.

Banyak sekali bukti dalam kehidupan berbangsa di negara ini yang mencerminkan bahwa banyak orang yang tidak memahami makna slogan itu. Banyak orang yang berpikiran bahwa Indonesia lebih baik dijadikan sebagai bagian dari jazirah Arab dan mengadopsi sistem disana dalam kehidupan. Mereka lupa bahwa bangsa ini tidak diwujudkan dan diniatkan untuk menjadi negara Arab oleh para pendiri.

Sesuatu yang akan bisa diperdebatkan panjang lebar dan menjadi sebuah polemik yang tak berujung.

Tetapi, hal yang lebih bisa dilihat mata, yaitu bagaimana bangsa itu merawat peninggalan-peninggalan masa lampaunya.

Banyak bangunan di negeri ini yang dibangun puluhan dan bahkan ratusan tahun yang lalu, dan tentunya menyimpan tidak terhingga sejarah di dalamnya. Sesuatu yang tidak terhingga nilainya bagi sebuah bangsa.

Ironisnya, banyak bangunan itu yang sangat tidak terawat, hampir ambruk, dan bahkan berubah fungsi. Sebagai contoh kecil, yaitu Bioskop Presiden di Bogor.

Bangunan ini dibangun di masa lalu, pada masa Belanda masih bercokol di negeri ini. Disanalah dulu masyarakat Hindia Belanda mencari hiburan. Kemudian, setelah kemerdekaan, bangunan ini menjadi tempat Presiden Pertama Indonesia, Soekarno berpidato.

Sebuah bangunan yang memiliki nilai historis cukup tinggi karena dari sana bisa dipelajari bagaimana warga Bogor pada masa penjajahan mencari hiburan. Bisa juga membuat orang merasakan suasana dramatis saat mendengarkan pidato sang orator ulung itu.

Hal itu tidak akan lagi bisa dilakukan karena bioskop itu sudah berubah fungsi menjadi bangunan tak berpenghuni. Bioskop itu menjadi sebuah onggokan tembok dan atap saja dan terlihat kumuh sekali. Bangunan ini hanya dijadikan tempat berdagang dan menyimpan barang saja. Hal yang justru menambah kesan kumuh pada tempat yang cukup bersejarah ini.

Sebuah contoh kecil saja, bagaimana bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa besar ketika bahkan mereka tidak bisa merawat sesuatu yang sebenarnya merupakan penghubung masa kini dengan masa lalu. Sesuatu yang bisa mengajarkan kepada generasi mendatang tentang apa yang pernah terjadi di negeri ini 100,200, atau 300 tahun yang lalu.

Sesuatu yang menunjukkan bagaimana bangsa ini memandang slogan " Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya". Rupanya bangsa ini masih memandang itu hanya sebuah slogan saja dan tidak ada hubungan dengan kehidupan berbangsa dan bernegar.

Mungkin juga, mereka memandang bahwa dirinya bukanlah bangsa yang besar, sehingga tidak perlu terlalu ambil pusing berusaha menterjemahkan slogan itu dalam tindakan nyata.

Mungkin juga kan?

Subscribe to receive free email updates: