Jangan Takut Berbuat Kesalahan, Yang Penting Pelajaran Yang Diambil Untuk Koreksi Di Masa Depan


Pernah mendengar nama Traf-O-Data? Belum? Pasti. Saya sendiri baru-baru ini saja mengetahuinya dan mendengarnya. Dan, perusahaan ini sudah tidak ada lagi di dunia, tamat riwayat dan menghilang dari muka bumi, kecuali catatan sejarah yang tetap mencatatnya karena hal ini berhubungan dengan kisah sukses salah seorang terkaya di dunia.

BILL GATES.

Kalau nama itu disebut, tentunya semua orang pasti terbayang sebuah perusahaan perangkat lunat bernilai Milayaran Dollar, Microsoft dan menjadikan si pelaku "kesalahan" sebagai salah satu dari orang terkaya di planet bumi.

Orang yang sama melakukan banyak kesalahan di perusahaan itu dan menyebabkannya bukan hanya tidak berkembang, bahkan sampai akhirnya ditutup.

Tetapi, belajar dari kesalahan di perusahaan itulah yang kemudian membuat Bill Gates menjadi sukses. Ia mengembangkan produk lain yang lebih diterima pasar beberapa tahun kemudian dan pada akhirnya menjadi populer dan memberikannya kesuksesan dalam banyak hal.


Jangan Takut Pada Kesalahan, Itu Bagian Dari Proses Belajar

Dua Jenis Kesalahan

Ngawur ya.

Kesannya memang ngawur dan tidak masuk akal. Masa, berbuat salah kok dianjurkan. Bisa kacau dunia kalau semua berani berbuat kesalahan.

Yap. Memang kesalahan dalam hal ini bukan tidak sembarang kesalahan. Kesalahan yang tidak perlu ditakuti adalah kesalahan yang merupakan bagian dari proses belajar, yang akan membuat orang dari tidak tahu menjadi tahu.

Jika dibuatkan kategori pemisah dari kesalahan yang diperbolehkan dan yang tidak, maka dua kategori besarnya adalah seperti di bawah ini :

  1. Kesalahan karena ketidaktahuan
  2. Kesalahan karena memang dengan niat
Golongan yang pertama melakukan kesalahan karena memang dia benar-benar tidak tahu. Bill Gates dalam kasus Traf-O-Data termasuk yang ini. Ia tidak tahu terlalu banyak tentang bidang pengumpulan, pemrosesan, dan analisa data. Maklum, saat itu ia baru terjun ke dunia bisnis informatika.

Hal ini tidak berbeda dengan anak-anak yang membuang sampah sembarangan karena ia tidak tahu bahwa ada sanksi dan peraturan yang melarang tindakan itu.

Golongan ini berbeda dengan para pemotor di Indonesia, yang sudah tahu bahwa lampu merah itu tandanya harus berhenti. Mereka menerobos sinyal tersebut dan melanggar aturan. Nah, para pemotor ini termasuk dalam golongan yang kedua, melanggar dengan niat (tidak baik).

Keduanya menunjukkan hal yang sangat jauh berbeda.

Jadi, tidak ngawur sama sekali.

Kesalahan Yang Tidak Perlu Ditakuti

Kesalahan pertama lah yang tidak perlu ditakuti karena merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses belajar. Setiap manusia akan mengalami bagian membuat kesalahan yang ini.

Bukan berarti bahwa seseorang tidak perlu berpikir dan sengaja membuat kesalahan, tetap saja orang itu harus berusaha sebaik mungkin agar apa yang dilakukannya berujung dengan baik.

Bill Gates, tentunya tidak pernah berharap bahwa bisnis pertamanya berakhir dengan kegagalan, ia tentunya berkeinginan perusahaan itu menjadi besar dan menguntungkan. Tetapi, dalam hidup, tetap saja ada hal-hal yang kerap luput dari perhitungan manusia.

Dan, lolosnya "hal itu" dari perhitungan manusia, bisa menjadi sebuah kesalahan yang berujung pada kegagalan.

Banyak yang kemudian mengambil sikap mundur dan kemudian berhenti. Mereka merasa "sakit" dan "malu" akibat kesalahan yang dilakukannya.

Wajar saja. Kesalahan apapun, sengaja atau tidak sengaja, tetap akan menghadirkan konsekuensi dan resiko. Tidak ada yang resiko-free, alias bebas resiko, semua pasti ada efeknya. Bill Gates tentunya rugi ribuan dollar dalam ambruknya bisnis pertamanya.

Tetapi, disanalah letak perbedaan orang sukses dan tidak.

Banyak orang setelah mengalami sakitnya berbuat kesalahan akan berhenti, tetapi Bill Gates tidak. Ia terus berusaha mewujudkan impiannya dan menerapkan apa yang dipelajarinya dari kesalahan yang lalu ke dalam bisnis barunya, Microsoft. Dan, itulah yang kemudian membawanya menjadi orang terkaya di dunia.

Ia "berbuat" kesalahan, dan kemudian belajar dari pengalamannya untuk menjadi lebih baik ke depannya.

Prosesnya tidak berbeda dengan seorang murid kelas 1 SD yang salah menjumlahkan 5+4. Ia menyebut 8. Kemudian, ia mendapat nilai buruk, dimarahi orangtua, dan ditegur guru karena tidak belajar. Sama sekali bukan hal yang menyenangkan tentunya.

Murid pandai kemudian akan berpikir tidak enak mengalaminya, jadi ia akan belajar lebih giat dan pada akhirnya berhasil menemukan 5+4 = 9 dan bukan delapan. Situasinya berubah, ia akan dinilai baik oleh guru dan orangtuanya.

Sebaliknya, yang bodoh dan malas tidak akan mengambil apapun dari hal yang sama, ia akan menyalahkan gurunya yang tidak bisa mengajar atau sekolahnya yang buruk. Kemungkinan besar ia akan menjadi orang bodoh terus selama hidupnya.

Bukan Kesalahan Yang Harus Ditakuti, Tetapi Bisakah Kita Belajar Dari Kesalahan Itu?

Setiap manusia berbuat kesalahan. Sejak lahir hingga matinya, mereka akan melakukannya. Dari sanalah lahir pepatah "Manusia itu sempurna dengan ketidaksempurnaannya". Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah.

Lalu, kenapa harus ditakuti?

Jangan sampai kesalahan yang pernah kita lakukan menghalangi kita mencoba menemukan yang terbaik bagi hidup kita, dalam berbagai hal. Justru kesalahan itulah yang kerap menjadi dorongan bagi manusia untuk menjadi lebih baik.

Perang Dunia II menyebabkan jutaan korban jiwa dan kesengsraan bagi jutaan manusia di dunia. Sebuah kesalahan besar, tetapi, dunia menjadi lebih damai dengan kehadiran PBB dan juga PIagam Hak Asasi Manusia. Perlahan tapi pasti sebuah "kesalahan" akan membuat manusia lebih baik.

Kenapa?

Karena manusia belajar dari hal itu dan mengambil pengalaman darinya. Sesuatu yang kemudian menjadi dasar bagi perbaikan di masa datang.

Jadi, kesalahan (karena ketidaktahuan atau tidak didasari niat buruk) tidak perlu ditakuti. Teruslah mencoba dan "berbuat" kesalahan. Dengan begitu semakin kaya diri kita dengan pengetahuan baru dan pengalaman baru. Tidak perlu ditakuti.

Yang perlu ditakuti adalah kalau kita, sebagai manusia, tidak bisa mengambil apa-apa dari kesalahan yang kita perbuat. Seorang murid yang sudah tahu 4+5 = 8 adalah salah, ternyata tidak belajar tentang lebih baik dan ketika pertanyaan yang sama diajukan, jawabannya tetap sama. Dan, dia tetap salah.

Ketidakmampuan inilah yang perlu dikhawatirkan karena berarti kita lebih bodoh dari keledai yang kalau menurut pepatah tidak pernah terperosok di lubang yang sama dua kali. Padahal, keledai digambarkan sebagai "binatang" yang terkenal bodoh.

----

Bill Gates membuat kesalahan di Traf-O-Data. Ia sudah pasti membuat banyak lagi kesalahan sebelum Microsoft berdiri. Ada rentang waktu beberapa tahun antara keduanya. Dan, ia pasti membuat kesalahan lebih banyak saat menjalankan Microsoft. Pasti itu.

Hanya, dia menjadi sukses karena kesalahan-kesalahan itu justru menjadi guru bagi dirinya dan menjadi bahan bakar yang mendorongnya lebih maju lagi.

Jadi, kenapa kita tidak meniru untuk tidak takut berbuat salah (selama tidak melanggar hukum dan aturan)?

Iya nggak sih?



Subscribe to receive free email updates: