Ornamen Penghias Jalan di Kompleks Perumahan Kotor Dan Lusuh, Siapa Yang Sebaiknya Merawatnya

Ornamen Penghias Jalan di Kompleks Perumahan Kotor Dan Lusuh, Siapa Yang Sebaiknya Merawatnya

Ornamen Penghias Jalan di Kompleks Perumahan Kotor Dan Lusuh, Siapa Yang Sebaiknya Merawatnya

Ornamen penghias jalan bisa ditemukan dimana-mana. Bentuknya bisa berupa wujud hewan, manusia, hingga sesuatu yang bahkan tidak jelas dan hanya mewakili filosofi yang membuatnya. Sesuai dengan namanya, ornamen-ornamen seperti ini memang ditujukan untuk membuat suasana menjadi lebih hidup, indah, dan tidak terkesan kosong tanpa kehidupan.

Setiap orang menikmatinya, meski sering tidak mengakui. Tidak jarang juga dijadikan sebagai patokan penunjuk arah.

Tetapi, sama dengan berbagai barang di rumah kita, ornamen penghias jalan perlu dirawat. Tidak beda dengan meja, kursi, lemari, dan bahkan hiasan di rumah, perlu dibersikan, dicat ulang. Semuanya harus diurus supaya tetap bisa menjalankan fungsinya, sebagai penghias.

Tentunya tidak akan nyaman melihat sebuah patung kotor, kusam, dengan cat yang mengelupas disana-sini.

Disinilah masalahnya mulai timbul karena perawatan itu identik dengan "tanggungjawab". Pertanyaannya siapa yang harus bertanggungjawab untuk itu.

Bila ornamen penghias jalan adanya di jalan raya, tentunya sudah jelas bahwa pemerintah setempat lah yang harus bekerja untuk memastikannya tampil prima dan menjalankan fungsinya. Tetapi, bagaimana dengan yang berada di sebuah kompleks perumahan.

Tidak serta merta kewajiban untuk merawatnya jatuh ke tangan pemerintah. Bila memang kemudian wilayah perumahan itu masih berada di bawah kendali pihak pengembang, maka tanggung jawab itu berada di pundak mereka, bukan pemerintah.

Berbeda dengan jika wilayah itu sudah "diserahterimakan" kepada pihak pemerintah, maka pihak pengembang bukan lagi pihak yang bertanggungjawab. Kewajiban itu pindah ke pihak pemerintah.

Pada kenyataannya, perpindahan kewajiban itu sering menimbulkan beban tambahan bagi yang menerima. Mau tidak mau karena untuk merawat sesuatu pasti butuh biaya. Tidak gratis. Mencuci motor saja perlu biaya, apalagi merawat ornamen penghias jalan.

Sesuatu yang kerap menjadi perdebatan panjang tak henti karena siapa yang mau mendapatkan beban tambahan.

Hasilnya kerap banyak ornamen penghias jalan menjadi tidak terurus. Kusam, lusuh, kotor, adalah pemandangan yang sering terlihat. Fungsi utamanya sebagai penambah keindahan menjadi berkurang dan bahkan justru menjadi perusak keindahan. Tidak enak dilihat.

Warga yang tinggal di sekitar kerap mengeluh kepada pihak yang "berwenang", tetapi karena prosedur untuk melakukannya sering sangat panjang dan berbelit, dan belum ditambah harus keluarnya dana, sering menyebabkan tidak ada tindakan yang dilakukan. Ornamen-ornamen penghias jalan, terutama di dalam kompleks perumahan kerap dibiarkan "membusuk" tidak terawat.

Lalu, apa yang harus dan bisa dilakukan?

Sebenarnya, hal itu bisa diselesaikan dengan mudah. Para warga yang merasa tergganggu karena hal itu, bisa berinisiatif untuk merawatnya. Tentu ada biaya yang keluar dari kantung, dan itu bukanlah "kewajiban" mereka, tetapi karena hal itu berkaitan dengan "kepentingannya" sendiri, seharusnya tidak masalah.

Mana yang lebih baik, antara melihat sesuatu yang jelek dan tidak indah setiap hari, atau mengorbankan sedikit dana untuk memperbaikinya?

Pilihan itu ada dan tersedia. Pertanyaannya, tinggal maukah kita mencoba memperbaiki lingkungan kita sendiri tanpa menunggu pihak yang berwenang turun tangan?

Sayangnya lagi, kalau sudah berurusan dengan duit, hal itu menjadi sesuatu yang sangat berat. Padahal, biasanya nilainya tidak besar. Harga beberapa kaleng cat dan upah untuk mengerjakannya sering lebih rendah dibandingkan biaya makan di sebuah restoran. Apalagi sebenarnya bisa dibagi bersama dengan warga yang lain.

Yah, sayang sekali memang.





Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar