Posong Yang Bukan Pocong, Si Penangkap Belut dan Ikan Dari Tanah Sunda

Posong Yang Bukan Pocong, Si Penangkap Belut dan Ikan Dari Tanah Sunda

Posong bukanlah pocong yang sering membuat bulu kuduk merinding kalau membayangkannya. Kata ini justru menunjukkan sebuah benda yang sangat berguna bagi manusia untuk mencari makanan berprotein seperti ikan dan belut di sungai. Jadi, keduanya membahas hal yang berbeda.

Jangan tertukar yah.

Posong adalah sebuah alat penangkap belut atau ikan tradisional yang dipergunakan oleh masyarakat Sunda. Tentunya dengan catatan di masa lalu karena di masa sekarang, selain jala dan pancing lebih populer juga sungai-sungainya sudah banyak yang tercemar sehingga sulit mendapat ikan dari aliran sungai. Meskipun demikian, tentunya masih ada sebagai masyarakat di tanah Pasundan yang hingga kini masih mempergunakannya dalam kehidupan sehari-hari, meski tidak begitu banyak.

Perangkap ikan atau belut ini terbuat dari anyaman bambu dimana salah satu ujungnya terbuka dan bagian lainnya tertutup. Agak menyerupai tabung, tetapi tertutup di salah satu sisinya.

Cara penggunaannya adalah dengan memasang posong di aliran sungai yang diduga merupakan jalur ikan atau belut lewat. Arah bagian yang terbuka menghadap ke aliran sungai dan merupakan pintu masuk satu jalan bagi ikan atau belut.

Untuk memancing ikan/belut masuk, di dalam posong biasanya dimasukkan umpan, bisa berupa cacing atau umpan lainnya. Ikan yang tertarik akan memasuki posong, tetapi tidak akan bisa keluar.

Posong Yang Bukan Pocong, Si Penangkap Belut dan Ikan Dari Tanah Sunda

Untuk membuat posong sendiri tidak mudah karena membutuhkan keahlian menganyam bambu. oleh karena itu biasanya pengrajin posong memerlukan waktu lumayan, seharian hanya untuk menghasilkan sebuah posong.

Mungkin karena itulah, perangkap belut tradisional ini kurang bisa bersaing dengan peralatan yang lebih modern.

Sayang memang, tetapi apa mau dikata, namanya juga perkembangan zaman, sesuatu yang kurang memenuhi selera atau dianggap tidak praktis akan ditinggalkan.

Meskipun demikian, usaha-usaha untuk memperkenalkan salah satu bentuk cara hidup di masa lampau tetap dilakukan oleh banyak pihak. Salah satunya terlihat dalam pagelaran CGM Bogor Street Fest atau Cap Go Meh Bogor dimana posong dipadukang dengan kecantikan gadis-gadis muda berbalut pakaian berwarna ceria.

Dan, memang hasilnya lumayan karena masyarakat banyak jadi mengetahui tentang posong dan fungsinya bagi kehidupan masyarakat Sunda di masa lalu. Setidaknya dengan begitu, keberadaan posong tidak akan terlupakan oleh generasi masa kini.

Jadi, setidaknya, anak-anak zaman now tidak akan menganggap bahwa posong adalah pocong yang yang salah diucapkan.

Cukup cerdik juga.

(Dalam bahasa Indonesia, mungkin posong bisa disamakan dengan bubu)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel