Sebaiknya Tidak Mengatakan Sibuk Saat Diajak Kerja Bakti

Sebaiknya Tidak Mengatakan Sibuk Saat Diajak Kerja Bakti

Kerja bakti adalah sebuah kata majemuk yang bisa membuat orang tiba-tiba saja berubah pikiran dengan cepat. Sebuah undangan kerja bakti dari Ketua RT atau RW bisa merubah pikiran banyak orang, dari semula hanya berniat leyeh-leyeh, atau santai di rumah saja, tiba-tiba akan berganti menjadi "harus pergi ke sebuah tempat dan melakukan kegiatan yang enatah apa".

Yah, kenyataannya, memang banyak anggota masyarakat yang kerap menghindar untuk bergabung. Berbagai usaha untuk membangkitkan kesadaran, termasuk menjelaskan betapa pentingnya kerja bakti bagi diri mereka sendiri, seperti sia-sia saja. Tetap saja banyak warga yang lebih suka mangkir dari ikut dalam kerja bersama membersihkan lingkungan.

Lucunya, kebanyakan alasannya adalah sama, yaitu kebanyakan akan mengatakan sibuk, meskipun sebenarnya tidak ada apa-apa yang mereka kerjakan. Alasan itu akan diberikan kepada pak RT , biasanya juga pas dengan hari pelaksanaan kegiatan sambil berpakaian rapi.

Sayang sekali. Bukan hanya karena hal itu menunjukkan ketidakpedulian mereka terhadap lingkungan sekitar, tetapi hal seperti itu sebenarnya menunjukkan sebuah hal lain, yang menunjukkan bagaimana yang mengatakan memandang rendah para pengurus RT atau orang lain.

Ketika seseorang mengatakan dirinya sibuk untuk terlibat kerja bakti, ia secara tidak langsung menekankan bahwa dirinya lebih sibuk dari warga lainnya sehingga tidak punya waktu untuk ikut serta.

Kok bisa?

Dengan beralasan sibuk, hal itu bisa diartikan bahwa yang lain tidak sibuk dan lebih jauh lagi tidak punya kerjaan sehingga mau melakukan sesuatu tanpa dibayar.

Padahal, tentu saja warga yang terlibat maupun pengurus RT juga sama. Mereka pun harus mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Mereka juga perlu mengurus keluarga. Tidak beda dengan yang beralasan sibuk.

Pertanyaannya, mengapa warga yang lain bisa meluangkan waktu dan menyempatkan diri untuk ikut terjun sedangkan yang berkata sibuk, tidak bisa?

Dengan melakukan penjadwalan kegiatan dan waktu seharusnya tidak ada alasan bahwa warga tidak ikut serta dalam kegiatan kerja bakti. Hasil kerja bakti dirasakan oleh semua yang tinggal di lingkungan itu dan bukan satu dua orang saja. Jadi, semua orang harus mau terlibat dan turut serta, dan harus mau meluangkan waktu untuk itu.

Tidak ada alasan, kecuali sakit atau benar-benar situasi darurat. Kerja bakti adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat.

Mengatakan bahwa diri sendiri sibuk untuk menghindari kerja bakti adalah sesuatu yang meremehkan dan merendahkan orang lain. Dengan mengatakan alasan itu, yang beralasan sama saja merendahkan kesibukan orang lain.

Sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.

Memang, biasanya alasan itu akan diterima, tetapi hal itu akan menunjukkan kepada masyarakat tentang ketidakpedulian orang yang berkata seperti itu. Jangan pernah salahkan kalau ada omongan dan pandangan buruk dari lingkungan terhadap orang yang sering mangkir dari kerja bakti terlalu sering.

O ya. Tentunya orang itu bisa beralasan apapun, karena itu hak individu. Tetapi, masyarakat punya hak untuk menilai dan menjatuhkan vonis.

Jangan heran pula, ketika orang itu punya hajat dan acara, kemudian ia mengundang mereka, tetapi ternyata hanya sedikit yang mau hadir. Bagaimanapun, masyarakat bisa menilai dan kemudian menjatuhkan hukuman sosial yang tidak mengenakkan. Itu adalah konsekuensi dan imbalan dari kurang pedulinyadia terhadap lingkungan.

Jadi, selalu usahakanlah untuk bisa hadir dalam kerja bakti bentuk apapun. Kalaupun memang benar-benar tidak bisa hadir, usahakan jangan memakai alasan sedang sibuk. Alasan seperti itu sangatlah tidak sopan dan meremehkan orang lain.

Lebih baik jelaskan acara apa yang menghalangi sehingga tidak bisa ikut kerja bakti.

Hal itu lebih baik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel