Gaya Hidup Ramah Lingkungan Dimulai Dari Rumah

Gaya Hidup Ramah Lingkungan Dimulai Dari Rumah

Gaya Hidup Ramah Lingkungan Dimulai Dari Rumah

Gaya hidup ramah lingkungan atau green lifestyle adalah salah satu istilah yang semakin hari semakin keras didengungkan oleh banyak pihak, seperti pemerintah, organisasi pecinta lingkungan, dan bahkan orang biasa sekalipun. Sikap hidup ramah lingkungan dipandang merupakan hal yang harus dilakukan, bukan hanya demi kelestarian lingkungan hidup, tetapi juga demi anak cucu kita di masa mendatang.

Tentunya, semua orang tidak berharap kalau keturunan mereka hanya akan mewarisi alam yang sudah rusak, udara yang penuh polusi, atau air yang sudah tercemar berbagai bahan kimia. Siapa yang mau?

Sayangnya, terkadang kata memang lebih indah didengar karena pada kenyataannya setiap tahun lingkungan hidup kita tetap mengalami penurunan kualitasnya. Kerusakan alam terjadi dimana-mana.

Banyak dari kita menyalahkan perusahaan-perusahaan besar sebagai biang keladi dari kesemua itu. Mereka membabat hutan, membuat banyak bangunan, dan banyak lagi hal lainnya. Jari telunjuk terarah pda perusahaan-perusahaan itu.sebagai penyebab.

Tetapi, sebenarnya bukan hanya merekalah penyebab rusaknya lingkungan hidup kita. Justru, banyak juga kebiasaan yang dilakukan individu atau perorangan yang berperan besar memnyebabkan penurunan kualitas lingkungan di sekitar kita.

Memang terkadang banyak orang tidak menyadarinya karena kecil, tetapi karena biasanya dilakukan banyak orang, hasilnya menjadi sangat besar efeknya.

Beberapa contoh tindakan yang dianggap biasa tetapi sebenarnya memberikan efek buruk bagi lingkungan adalah seperti di bawah ini

1. Kebiasaan minum air mineral 

Terlihat biasa. Setiap orang butuh minum air setiap harinya. Tetapi, kebiasaan ingin praktis dan tidak mau repot mencuci gelas ternyata sangat tidak ramah lingkungan.

Air mineral biasanya dikemas dengan botol atau gelas plastik. Dan, tahukah Anda bahwa plastik membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa terurai dan kalaupun bisa terurai hasilnya akan mencemari tanah atau air?

Bayangkan berapa juta gelas dan botol plastik yang dibuang setiap harinya.

Belum lagi kalau ditambah kebiasaan memakai sedotan plastik.

Kebiasaan kecil ini menambah jumlah polutan berbahaya ke lingkungan. Apalagi di Indonesia, sistem pengolahannya kebanyakan masih menggunakan sanitary landfill, yaitu menimbun sampah di sebuah lahan dan kemudian menimbunnya dengan tanah saja.

2. Membuang minyak jelantah (minyak bekas pakai)

Habis menggoreng, minyak bekasnya Anda buang kemana? Ke dalam saluran air? Nah, ini juga merupakan sebuah contoh hal kecil yang biasa dilakukan dan mencemari lingkungan.

Bayangkan saja kalau semua ibu rumah tangga membuang minyak jelantah ke saluran air dan selokan. Apa jadinya kualitas air di sungai karena pada akhirnya air yang berasal dari perumahan akan mengalir ke sungai dan bahan-bahan berbahaya yang terkandung dalam minyak jelantah akan mencemari sumber air utama pada akhirnya.

Kalau cuma satu mungkin efeknya hanya sedikit, tetapi kalau ada puluhan juta ibu rumahtangga yang melakukannya, lalu apa yang terjadi.

3. Memanaskan mobil dan motor terlalu lama

Supaya mobil atau sepeda motor enak dipakai dan bekerja maksimal, memang kadang harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum dipakai.

Padahal, dalam hal ini lingkungan harus dikorbankan. Mau sedang berjalan atau tidak ketika mesin kendaraan dinyalakan, maka akan ada polutan yang tersebar ke udara dan mengotorinya. Gas seperti karbonmonoksida dan dioksida akan bertambah jumlahnya setiap kali kendaraan dinyalakan.

Semakin lama mesin kendaraan dinyalakan, semakin besar polutan yang dibuang ke udara.

Jadi, kalau mobil dipanaskan selama 30 menit tanpa dipakai, maka berarti pengorbanan lingkungan sia-sia saja selama 30 menit itu. Tidak ada hasilnya. Udara sudah menjadi korban. Belum lagi jumlah bahan bakar fosil yang dipakai tidak akan bisa tergantikan.

Aan lebih baik kalau sebuah kendaraan dipanaskan hanya 20-30 detik saja, dan bukan dalam hitungan menit.

Ini hanyalah contoh-contok kebiasaan yang banyak dilakukan orang sehari-hari dan menunjukkan bahwa individu atau perorangan juga bertanggungjawab pada perusakan lingkungan. Kerap tidak pernah disadari.

Oleh karena itu, untuk menjadi orang yang menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, sebenarnya sebelum menunjuk dan menyalahkan perusahaan-perusahaan besar, seseorang haruslah melihat ke diri sendiri, ke dalam rumahnya, apakah mereka sudah ramah terhadap lingkungan atau belum?

Banyak sekali tindakan dan kebiasaan keseharian di rumah yang berperan besar dalam perusakan lingkungan dan seringkali hal ini diabaikan.

Memang lebih mudah menyalahkan orang lain terhadap sesuatu dibandingkan melakukan koreksi terhadap diri sendiri. Itulah mengapa kerusakan lingkungan masih banyak terjadi dimana-mana, karena banyak orang tidak benar-benar menganut green lifestyle atau gaya hidup ramah lingkungan.

Padahal, kalau saja semua individu menyadari hal ini dan menerapkannya di rumah-rumah, sudah pasti setidaknya unsur perusak lingkungan akan berkurang banyak. Lebih banyak dan memberi arti dibandingkan ikut demo menentang perusahaan pencemar lingkungan. 

Jadi, marilah mulai dari rumah sendiri kawan. Hentikan segala kebiasaan yang berpotensi mencemari dan merusak lingkungan. Tidak sulit sebenarnya dan hanya perlu membiasakan diri, seperti daripada minum dari gelas plastik, kenapa tidak pakai gelas kaca yang bisa dipakai ulang?

Betul kan?
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar


Silakan berkomentar yang sopan dan jangan meninggalkan link aktif karena akan langsung dikategorikan sebagai spam dan didelete.

Mohon maaf kalau terkadang admin tidak ada balasan dari admin karena terkadang ada komentar yang dirasa hanya pernyataan dan tidak perlu direspon