Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Kasus Siswi SMP Dihamili Anak SD di Tulungagung?

Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Kasus Siswi SMP Dihamili Anak SD di Tulungagung?

Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Kasus Siswi SMP Dihamili Anak SD di Tulungagung?

Sebuah berita yang mengundang perhatian banyak kalangan dan menjadi buah bibir masyarakat terbit beberapa hari yang lalu. Berita yang mengungkapkan kasus siswi SMP dihamili anak SD di Tulungagung ini banyak mennyita perhatin. Banyak orangtua yang pasti terhenyak membaca berita seperti itu.

Seorang siswi SMP berusia 13 belas tahun dibawa ke Puskesmas terdekat oleh pihak sekolahnya karena terlihat kurang sehat. Setelah diperiksa ternyata hasil pemeriksaan menunjukkan sang siswi sudah berbadan dua. Umur kandungannya sudah 6 bulan saat diperiksa.

Setelah dilakukan pembicaraan dengan pihak keluarga ditemukan bahwa kehamilannya itu merupakan hasil hubungannya dengan seorang remaja yang ternyata masih duduk di bangku kelas 5 SD. Rupanya keduanya menjalin hubungan cukup lama dan sudah melewati batas. Sang remaja lelaki sendiri diketahui juga berusia 13 tahun tetapi karena 2 kali tidak naik kelas, maka ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Kedua keluarga hingga tulisan ini diturunkan masih berusaha agar keduanya bisa menikah secara resmi karena  KUA (Kantor Urusan Agama)  belum bisa menerima permohonan mereka akibat usia keduanya masih di bawah umur. Butuh penetapan dispensasi dari Pengadilan Anak agar keduanya bisa menikah secara resmi.

Terlepas dari semua hal itu, ada beberapa hal yang bisa diambil dan dipelajari dari kasus siswi SMP dihamili anak SD ini. Banyak pelajaran yang seharusnya menjadi perhatian banyak kalangan karena situasi yang sama bukan tidak mungkin terjadi di tempat lain.

1. Orangtua Yang Kurang Perhatian

Sulit untuk tidak mengatakan bahwa orangtua dari kedua belah pihak tidak "bersalah" dalam hal ini. Mereka jelas kurang memperhatikan perkembangan putra putrinya dalam bergaul.

Bagaimanapun remaja seusia mereka sedang terpengaruh oleh hormon yang kuat dan keingintahuan yang masih luar biasa besar. Oleh karena itu, butuh pengawasan dan bimbingan pihak orangtua agar dorongan itu tetap berada dalam batas koridornya.

Usia kandungan yang sudah mencapai 6 bulan menunjukkan banyak hal karena berarti baik ibu atau ayah tidak begitu memperhatikan perubahan fisik dan tingkah laku dari sang siswi.

2. Pergaulan Anak Zaman Now Lebih Bebas

Sebuah hal yang harus disadari bahwa setiap generasi akan berbeda. Anak-anak di zaman tahun 1980-an tentu mempunyai kebiasaan yang berbeda dibandingkan anak zaman now.

Di masa sekarang pergaulan antar pria dan wanita jelas lebih bebas dibandingkan di masa itu. Pengaruh gaya hidup Barat yang masuk lewat internet banyak mengilhami anak-anak zaman now dalam bergaul. Hal ini berbeda dengan anak-anak di tahun 1980-an dimana pengaruh internet jelas belum ada.

3. Hati-hati Kalau Berbicara

Menurut Tribunnews Kupang, tetangga dari kedua bocah ini sudah memperingatkan bahwa hubungan kedua anak ini sudah berlebihan dan perlu diingatkan. Tetapi, jawaban dari ayah sang bocah pria akan membuat terhenyak siapapun yang mendengarnya.

Ia berkata " Biar jadi bahan percobaan burung anaknya yang baru disunat" (Sumber : Tribunnews)

Entah bercanda atau beneran, ucapan seperti ini mencerminkan pola pikir sang bapak. Ia memandang rendah wanita karena dengan ini ia memandang wanita adalah bahan percobaan bagi pria.

Sebuah sikap yang tidak selayaknya diucapkan oleh seorang ayah.

Masa depan kedua bocah ini terancam. Mereka bisa putus sekolah dan hal ini tentunya akan menyulitkan mereka di masa depan. Apalagi dengan tambahan beban baru berupa anak yang harus mereka biayai dan urus. Padahal, untuk mengurus diri sendiri saja mereka belum mampu.

Butuh dukungan banyak dari pihak keluarga, masyarakat, dan sekolah agar mereka tetap bisa bersekolah dan mendapatkan pendidikan yang dibutuhkan.

Pelajaran yang paling berharga yang bisa diambil dari kasus anak SD menghamili siswi SMP ini adalah sebagai pengingat kepada para orangtua bahwa karir dan harta bukanlah segalanya. Anak adalah tanggungjawab yang harus dijaga dan oleh karena itu setiap orangtua harus mau meluangkan waktu mereka untuk memperhatikan, mengawasi dan membimbing putra putrinya.

Tanpa ada kesadaran dalam hal ini akan banyak sekali kasus serupa yang akan terjadi lagi.
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar


Silakan berkomentar yang sopan dan jangan meninggalkan link aktif karena akan langsung dikategorikan sebagai spam dan didelete.

Mohon maaf kalau terkadang admin tidak ada balasan dari admin karena terkadang ada komentar yang dirasa hanya pernyataan dan tidak perlu direspon