23 Fakta Tentang Pohon Darah Naga (Dracaena Cinnabari)

23 Fakta Tentang Pohon Darah Naga (Dracaena Cinnabari)

Kredi Foto : Kosovapost
Pohon Darah Naga, yang sebutan umum untuk Dracaena cinnabari, adalah satu spesies pohon cemara. Tanaman ini merupakan tanaman endemik di kepulauan Socotra, yang mencakup empat pulau di Samudera Hindia.

Habitata pohon unik ini dapat tumbuh dalam iklim yang keras dan gersang di Pulau Socotra, yang merupakan pulau terbesar dari empat pulau di kepulauan Socotra. Kepulauan yang merupakan bagian dari Republik Yaman ini sangat kaya flora dan fauna, dengan sekitar 700 spesies.

Pulau ini diakui oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai situs warisan alam dunia pada bulan Juli 2008.

Nama Pohon Darah Naga, atau dalam bahasa Inggris Dragon's Blood sendiri mengacu pada getah / resin berwarna merah terang yang akan keluar kalau batang pohon ini ditoreh/dilukai. Getah ini sudah digunakan untuk membuat pernis oleh pembuat biola Italia sejak abad ke-18

Pohon Dracaena cinnabari adalah salah satu tanaman paling khas di wilayah ini. Habitatnya bisa  ditemukan pada ketinggian 300-1500 m. I

Ada banyak fakta menarik pohon yang berpostur unik, seperti cendawan/jamur raksasa ini.


1)  Darah Naga, getah yang diambil dari batang pohon Dracaena cinnabari, pertama kali diketahui oleh bangsa Romawi kuno. Ini disebutkan dalam Periplus abad ke-1.

2)  Dracaena cinnabari pertama kali dideskripsikan oleh Letnan Wellsted dari East India Company pada tahun 1830-an, tetapi seorang ahli botani Skotlandia bernama Isaac Bayley Balfour lah yang menggambarkan spesies tersebut dan memberikan nama ilmiahnya pada tahun 1880.

3) Kepadatan tanaman ini tidak homogen. Pohon-pohon dapat ditemukan di dataran tinggi Dixam, granit sentral besar Haggeher, dan daerah timur Hamadero, Sirahon dan Kilisan (Kepulauan Socotra)

4) Dracaena cinnabari adalah satu-satunya tanaman di genus Dracaena yang bisa membentuk hutan yang lebat.

5) Pohon ini tidak sama  Dracaena draco, spesies lain dari genus yang juga disebut pohon darah naga. Spesies ini asli Kepulauan Canary, Madeira, Maroko, dan Pulau Cape Verde.

6) Pohon Dracaena cinnabari kebanyakan ditemukan di dataran tinggi batu kapur di Pulau Socotra.

7) Disebut sebagai emzoloh oleh penduduk asli, resin berwarna merah diyakini memiliki sifat terapeutik.

8) Penduduk asli Pulau Socotra masih menggunakan resin karena berbagai alasan. Getah ini biasanya digunakan untuk memfasilitasi penyembuhan luka. Atau, juga digunakan sebagai pengencer darah dan antipiretik. Bisa juga juga digunakan untuk mengobati diare, dan disentri dalam pengobatan rakyat Yaman.

9) Getah Pohon Darah Naga Resin adalah sumber alkaloid dan prosianidin yang baik.

10) Resin juga diyakini memiliki sifat astringen, yang digunakan sebagai pelemas otot.

11) Diyakini bahwa kemampuan getah itu untuk menyembuhkan luka disebabkan oleh adanya proanthocyanidins dan taspine.

12) Dianggap sebagai salah satu komunitas hutan tertua di bumi

13) Pohon ini termasuk kategori spesies payung, karena memberikan perlindungan bagi banyak spesies lain di bawah daun dan rantingnya yang melebar dan berbentuk seperti payung. Banyak habitat tanaman atau hewan ditemukan di bawah payung Pohon Darah Naga

14) iprediksi bahwa pohon ini mungkin kehilangan sekitar 45% dari habitat pada tahun 2080.

15) Bentuk pohon dapat dikaitkan dengan percabangan dichotomous, di mana masing-masing cabang terbagi menjadi dua bagian. Batang membelah setiap kali pohon berbunga. Itulah sebabnya mengapa ahli botani dapat menghitung perkiraan usia pohon dengan menghitung jumlah percabangan.

16) Pohon-pohon sering tumbuh bersama. Mahkota atau kanopi yang berbentuk payung juga menghalangi sinar matahari yang keras, dengan demikian melindungi bibit yang tumbuh di bawah pepohonan.

17) Pohon-pohon tumbuh dengan baik di daerah yang mengalami kabut dan awan rendah, karena daun kemudian dapat menangkap uap air dari udara, dan menyalurkannya ke arah akar.

18) Daun pohon cukup kaku, dan ditemukan di ujung cabang muda. Mereka dapat tumbuh hingga 60 cm dan lebar 3 cm.

19) Pohon Darah Naga berbunga dan bunganya kecil, harum, hijau kehijauan muncul di ujung cabang di bulan Februari. Lima bulan setelah berbunga pohon menghasilkan buah.

20) Meskipun Dracaena cinnabari adalah monokotil, ia menampilkan penebalan akar dan batang sekunder.

21) Di habitat asalnya, pohon ini dapat hidup selama ratusan tahun. Namun, populasinya semakin terpengaruh karena habitatnya mulai terganggu aktivitas manusia.

22) Pohon ini mampu beradaptasi dengan baik dengan lingkungan yang keras. Mahkota yang menjulang dan seperti jamur memberikan keteduhan pada akar, dan mengurangi penguapan air. Daun lilin menyerap air dari udara, dan air kemudian diangkut dari daun ke cabang, batang, dan akar.

23 Spesies ini rentan kerusakan karena karena getahnya yang memiliki nilai komersil. Pemanfaatannya kerap berlebihan dan mengganggu. Begitu juga penggembalaan kambing yang kerap memakan bibit/biji tanaman yang sedang tumbuh. Penebangan untuk mengambil kayu bagi rumah tradisional semakin mengancam kelestarian pohon unik ini.

23 Fakta Tentang Pohon Darah Naga (Dracaena Cinnabari)
Wikimedia Commons


Pada tahun 1998, pohon darah naga diklasifikasikan sebagai terancam punah dalam dan masuk Daftar Merah Spesies Terancam IUCN.

Saat ini diklasifikasikan sebagai terancam. Berbagai upaya sedang dilakukan untuk melindungi pohon.

Bahkan, namanya terdaftar bersama dengan spesies lain dari genus Dracaena di Appendix II dari Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar Terancam Punah (CITES) pada tahun 2010.

Berbagai upaya yang sedang dilakukan untuk melestarikan keanekaragaman hayati yang penting secara global dari Kepulauan Socotra, termasuk diantaranya membatasi penggembalaan oleh ternak dan membatasi pembangunan jalan di habitat aslinya.

---

Dikutip dari berbagai sumber
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar