Apa Itu Biodiesel 20% dan Mengapa Penerapannya Bisa Menghemat US$ 5,5 Milyar?

Apa Itu Biodiesel 20% dan Mengapa Penerapannya Bisa Menghemat US$ 5,5 Milyar?

Apa Itu Biodiesel 20% dan Mengapa BPenerapannya Bisa Menghemat US$ 5,5 Milyar?

Sebuah berita hari ini di media massa online terkenal di Indonesia, DETIK bagian finance sebenarnya menarik untuk diamati. Berita ini mencerminkan bahwa pemerintah Indonesia mulai bergerak maju untuk mengikuti langkah-langkah yang sudah banyak dilakukan oleh negara maju dalam hal ini. Beberapa berita itu terkait dengan penggunaan biodiesel 20% yang akan semakin digalakkan.

Judulnya yang paling menarik adalah "Penerapan Biodiesel 20% Bisa Menghemat US$ 5,5 Milyar. Selain itu ada juga " Bio Diesel 20% Untuk Sektor Non Subsidi Menunggu Restu Jokowi".

Tetapi, tidak heran kalau berita-berita seperti ini akan kalah dan kurang pembacanya di kalangan masyarakat Indonesia. Maklum saja, berbagai topik "berat" seperti itu tidaklah menarik untuk dibaca. Lebih enak membaca tentang Syahrini memakai Tas Hermes berharga ratusan juta rupiah atau sepatu baru.

Padahal, info seperti ini merupakan hal penting dalam hal ketahanan Indonesia dalam hal ekonomi dan juga betapa kebijakan pemerintah juga mulai bergeser untuk lebih memperhatikan lingkungan dan juga mengembangkan perekonomian rakyatnya sendiri.

Kok bisa begitu?

Begini ceritanya.


Apa Itu Biodiesel?

Jangan bilang kalau biodiesel tidak pernah dipakai oleh rakyat banyak. Kalau mobil Anda mobil diesel, maka sudah pasti sebenarnya Anda pernah menggunakan bahan bakar jenis ini. Cuma karena nama populernya di Indonesia berbeda, maka mungkin banyak yang berpikir kalau bahan bakar ini tidak berkaitan langsung dengan kehidupan rakyat Indonesia.

Nama tenarnya di berbagai SPBU Indonesia adalah BIOSOLAR. Ini adalah barang yang sama dan hanya karena masalah pemberian istilah saja yang membuatnya jadi simpang siur.

Istilah Solar, Biodiesel atau Biosolar sendiri mengacu pada bahan bakar yang dipergunakan berbagai mesin diesel, yaitu SOLAR.

Solar sebelum lahirnya biodiesel atau biosolar berasal dari minyak bumi yang setelah mengalami proses penyulingan menghasilkan berbagai jenis bahan bakar, seperti bensin, minyak tanah, dan solar.

Hanya kemudian, setelah teknologi berkembang, ternyata solar tidak lagi hanya bisa dihasilkan dari minyak bumi, tetapi juga bisa diproduksi dari berbagai bahan nabati, seperti biji kelapa sawit, buah jarak, dan masih banyak lagi lainnya.

Solar yang terbuat dari bahan nabati inilah yang kemudian dikenal dengan Biosolar atau Biodiesel, yang artinya solar yang terbuat dari bahan alami dan bukan berasal dari fosil (minyak bumi).

Keunggulan bioslar yang paling utama adalah BISA DIPERBAHARUI. Berbeda dengan "solar" yang tanpa bio di depannya yang membutuhkan waktu jutaan tahun agar sisa-sisa makhluk hidup berubah menjadi minyak bumi, biosolar bisa digantikan dengan cepat karena, contohnya kelapa sawit, bisa menghasilkan biji secara rutin setiap tahun. Tidak perlu menunggu waktu jutaan tahun untuk itu.

Hal ini tentunya akan membantu ketersediaan bahan bakar bagi umat manusia mengingat cadangan minyak bumi yang mulai menipis.

Biosolar Belum 100% Biosolar

Bukan hanya di Indonesia sebenarnya, tetapi di banyak negara istilah biosolar sendiri sebenarnya tidak menunjukkan kenyataan yang sebenarnya. Istilah biosolar seharusnya menunjukkan bahwa solar itu diproduksi dari bahan nabati.

Kenyataannya tidak demikian.

Biosolar atau biodiesel di banyak negara, termasuk negara maju di Eropa dan Amerika Serikat, sebenarnya masih merupakan campuran antara solar dari minyak bumi dan solar dari bahan nabati. Bukan 100% dibuat dari bahan nabati.

Hal itu dikarenakan, kekhawatiran pada banyak hal, seperti apakah lahan yang tersedia bisa mencukupi untuk menghasilkan bahan bakar tanpa mengganggu produksi makanan, atau apakah biosolar bisa semurah solar minyak bumi, dan apakah mesin diesel masa kini tidak rusak kalau memakainya.

Jadilah, biosolar yang dijual masih merupakan campuran. Tidak murni biosolar.

Berapa persen campuran solar nabati dalam biosolar yang dijual berbeda satu negara dengan yang lain. Ada yang hanya 10% dan ada juga yang sudah 30%. Di Indonesia sendiri, Biosolar yang dijual memiliki kandungan biosolar sekitar 15% dan sisanya masih solar dari minyak bumi.

Istilah yang dipakai untuk mengetahui besaran biosolar dalam solar yang dijual bisa dilihat dari angka di belakangnya. Misalkan biosolar 20 berarti campurannya adalah 80% solar dari minyak bumi dan 20% solar dari nabati.

Jadi, rencana pemerintah Indonesia sendiri menunjukkan bahwa kandungan solar nabati akan ditingkatkan. Bahkan, perlahan akan diarahkan sehingga menjadi Biosolar 100 yang artinya semua dibuat dari bahan alami.

Walau entah kapan hal itu bisa terwujud, hal itu sudah menunjukkan biat pemerintah di masa depan.

Mengapa Menggunakan Biosolar 20% Bisa Menghemat Devisa US$ 5,5 Milyar?

Terdengar bombastis yah. Tetapi, sebenarnya memang sangat mungkin. Penghematan devisa memang akan terjadi kalau kadar biosolar dalam solar yang dijual di Indonesia ditingkatkan.

Alasannya :

1. Indonesia adalah negara pengimpor minyak

Indonesia adalah negara produsen minyak adalah MASA LALU. Pada masa sekarang Indonesia adalah net importer minyak bumi. Hal itu terjadi karena produksi minyak bumi kita lebih sedikit dibandingkan kebutuhan dalam negeri. Sebagian besar bahan bakar minyak yang dipakai berasal atau impor dari negara lain.

Dan, untuk mengimpor bahan bakar itu memerlukan devisa. Semakin banyak yang diimpor, maka semakin banyak devisa yang harus dikeluarkan.

Nah, kalau penggunaan biosolar ditingkatkan, meski hanya 5% saja, hal itu akan mengurangi impor. Dengan menggantikan solar minyak bumi dengan biosolar, maka kita tidak perlu lagi mendatangkan dari negara lain. Dengan begitu tidak akan ada devisa yang harus dikeluarkan.

Cukup dengan membeli CPO (Crude Palm Oil- Minyak Kelapa Sawit) yang banyak diproduksi di dalam negeri, maka kebutuhan bahan bakar bisa terpenuhi. Padahal, Indonesia adalah salah satu produsen CPO terbesar di dunia, jadi ketersediaan bahan bakunya cukup banyak.

2. Menggerakkan Roda Perekonomian

Dengan membeli bahan baku lebih banyak dari dalam negeri, anggaplah Crude Palm Oil, maka pemilik perkebunan kelapa sawit akan senang mereka akan mendapat untung. Kalau mereka mendapat untung, maka pegawainya akan diberikan bonus atau gaji yang lebih baik. Mereka yang mendapat kenaikan gaji akan membelanjakannya dalam berbagai bentuk.

Efek berantai pembelanjaan akan terjadi dan hal ini akan membuat ekonimi Indonesia berputar semakin cepat.

Pada akhirnya kehidupan banyak orang akan membaik.

3. Sisi Politis

Tidak enak bergantung kepada orang atau negara lain. Kalau mereka ngambek dan tidak mau menjual minyak bumi ke Indonesia, bisa celaka negara ini. Kelangkaan bahan bakar bisa terjadi dan kalau itu terjadi maka perekonomian bisa terhambat.

Coba saja kalau bus-bus tidak bisa jalan karena kelangkaan solar, tentunya Anda akan misuh-misuh karena tidak bisa ke kantor dan boss Anda akan marah dan memecat Anda. Kalau sudah begitu penghasilan bagi keluarga juga terhenti.

Iya kan?

Nah, dengan menggunakan hasil produksi biosolar sendiri lebih banyak, ketergantungan terhadap negara lain akan berkurang sedikit demi sedikit. Kalau sudah 100% memakai biosolar, tentunya akan lebih baik karena dalam hal ini kita tidak lagi tergantung pada negara lain.

Nah, itulah alasan mengapa berita tentang "Penerapan Biosolar 20%" sebenarnya adalah berita yang sangat penting bagi negara ini. Hal itu menunjukkan arah masa depan Indonesia dalam bidang ketahanan energi.

Tidak semenarik gaya Syahrini yang manja, manja, menyebalkan (terkadang begitu), tetapi jelas lebih penting dari itu.

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar