Ingin Buka Usaha Kuliner? Jangan Cuma Belajar Masak Saja!

Ingin Buka Usaha Kuliner? Jangan Cuma Belajar Masak Saja!

Ingin Buka Usaha Kuliner? Jangan Cuma Belajar Masak Saja!
Usaha kuliner adalah sebuah jenis bisnis yang bisa dikata tidak akan ada matinya. Selama manusia masih perlu makan, menjual makanan akan selalu jadi bisnis yang menguntungkan. Bagaimana tidak? Karena berarti jumlah pembelinya akan banyak sekali dan mereka akan secara rutin membutuhkan makanan.

Kecuali, kalau manusia sudah berhenti makan dengan berbagai alasan.

Pemikiran seperti itulah yang mendorong banyak orang terjun membuka usaha kuliner. Bermodalkan kemampuan memasak ala chef, tidak sedikit orang yang memberanikan diri mendirikan bisnis menjual makanan. Apalagi keluarga, tetangga, teman mengatakan bahwa makanan buatannya enak dan sellable, alias bisa dijual.

Cuma masalahnya, setelah terjun, tidak berapa lama kemudian akhirnya usaha itu tutup karena tidak bisa mendapatkan keuntungan. Padahal, rasa masakannya tidak berubah. Orang yang kita kenal tetap bilang enak, lezat, bahkan super enak.

Lalu dimana masalahnya?

Sebenarnya tidak salah karena salah satu inti dari bisnis makanan adalah soal rasa. Pengunjung datang ke restoran, rumah makan, atau warteg sekalipun tetap memasukkan rasa dalam pertimbangannya.

Hanya saja, berpikir bahwa kelezatan masakan saja sudah cukup untuk sebuah usaha kuliner merupakan kesalahan besar. Penting ya! Cukup tidak!

Bagaimanapun sebuah usaha kuliner adalah BISNIS dan bisnis yang baik merupakan perpaduan dari banyak hal. Tidak berdiri sendiri.

Ada banyak hal yang harus dipelajari, bahkan untuk sekedar mendirikan sebuah warung makan biasa. Tidak berarti harus sekolah tinggi dulu karena bisa dipelajari dari teman, rekan, atau orang-orang yang paham tentang dunia itu.

Beberapa diantaranya adalah

1. Manajemen

Yang paling penting adalah manajemen keuangan. Namanya bisnis harus menghitung uang masuk kemudian uang keluar, dan tentunya profit dan rugi.

Juga harus memastikan agar uang modal tidak tercampur dengan uang belanja rumah. Masalah ini merupakan salah satu hal yang paling fatal kalau terjadi karena uang modal bisa terpakai untuk belanja kebutuhan rumah.

Manajemen waktu juga harus memastikan bahwa semua waktu yang ada bisa dipergunakan untuk hal-hal yang produktif dan membantu perkembangan usaha tersebut.

2. Promosi

Bayangkan saja berapa juta orang yang berpikir kalau usaha kuliner itu gampang dan mendirikan bisnisnya sendiri. Persaingan akan begitu ketat.

Jadi, mau tidak mau untuk menarik pengunjung promosi haruslah dilakukan. Tidak bisa tidak di tengah persaingan yang ketat seperti di masa sekarang, tanpa promosi sebuah usaha susah untuk berkembang.

Jadi, pengetahuan, setidaknya bagaimana melakukan promosi, haruslah tetap dikuasai. Jangan berkhayal bahwa karena makanannya enak, pengunjung akan otomatis datang seperti semut mendatangi gula.

Kenyataannya, promosilah yang membuatnya datang.

3. Negosiasi

Inti dari bisnis adalah "membeli murah" dan "menjual semahal mungkin". Dan, salah satu inti dari usaha makanan adalah suplai bahan baku yang "murah" tapi bagus.

Susah untuk mendapatkannya, tetapi dengan kemampuan bernegosiasi, hal itu bisa terbantu. Coba saja kalau tidak percaya di pasar. Harga satu ikat kangkung yang ditawarkan Rp. 10 ribu setelah dinegosiasikan bisa menjadi hanya Rp. 5000.

Bayangkan kalau seorang pemilik usaha makanan tidak bisa melakukan negosiasi harga. Pastinya akan cepat bangkrut dan rugi.

4. Komunikasi

Keluhan adalah salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari bisnis. Akan selalu ada pengunjung yang tidak puas dengan apa yang mereka dapat.

Masalah kecil bisa berujung pada tersebarnya nama jelek bagi sebuah usaha.

Hal ini bisa diminimalkan kalau pengelola memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Terkadang, penjelasan yang tulus dan dalam gaya bahasa yang halus bisa menenangkan orang yang sedang kecewa.

5. Belajar

Maksudnya? Belajar untuk belajar? Yap. Jangan berpikir bahwa keleatan masakan adalah segalanya dalam usaha kuliner.

Pemikiran seperti itu justru merupakan menghambat. Seorang yang berniat terjun ke dunia kuliner harus mau belajar. Mereka harus mau meluangkan waktu untuk menggali pengetahuan di bidang itu, seperti cara menata makanan supaya menarik, cara menjadi kreatif dan bisa menghadirkan jenis produk baru, dan lain sebagainya.

Dunia kuliner akan terus berkembang dan berubah. Dinamis. Terlalu percaya diri justru tidak bagus.

Sikap ingin terus belajar harus tetap dipertahankan untuk memastikan kelangsungan usahanya. Jadi, bersiaplah untuk terus belajar sepanjang waktu, termasuk belajar dari kesalahan yang pasti terjadi selama usaha berdiri.

Jadi, jangan hanya terfokus pada segi makanannya saja. Perhatikan juga hal-hal lain karena bisnis atau usaha kuliner tidak berbeda dengan bisnis lainnya. Semua memerlukan penggabungan pengetahuan dari berbagai bidang, dan tidak melulu hanya soal masak memasak.

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar


Silakan berkomentar yang sopan dan jangan meninggalkan link aktif karena akan langsung dikategorikan sebagai spam dan didelete.

Mohon maaf kalau terkadang admin tidak ada balasan dari admin karena terkadang ada komentar yang dirasa hanya pernyataan dan tidak perlu direspon