Penyebab Usaha Warung Sering Bangkrut

Penyebab Usaha Warung Sering Bangkrut

Kredit Foto : Wikimedia Cmmons
Usaha warung adalah jenis bisnis yang banyak dilakukan orang belakangan ini. Banyak yang melakukannya untuk mencari penghasilan sampingan, tetapi tidak sedikit juga yang menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama.

Biasanya, pengelola warung mendirikan tempat usahanya tidak jauh dari rumah dimana mereka tinggal. Tidak sedikit pula yang justru menggunakan bagian dari rumahnya sebagai tempat berjualan.

Jenis warung beragam, tetapi kebanyakan usaha ini menjual barang kebutuhan sehari-hari, seperti sabun, beras, kopi instan, dan banyak lain. Ada juga yang menjual makanan jadi, sayuran atau buah-buahan. Meskipun demikian intinya sama, yaitu mereka menyediakan berbagai bahan yang diperlukan sehari-hari.

Kemudahan mendirikan usaha jenis ini membuat banyak orang mencoba peruntungannya dan mendirikan warung mereka. Bisa dikata warung menjadi bak cendawan di musim hujan, terus tumbuh dimana saja dan kapan saja.

Sayangnya, seperti jamur pula, banyak usaha warung yang tumbang, bangkrut, dan tidak beroperasi lagi. Tidak jarang warung yang baru berdiri 2-3 bulan saja sudah tutup dan tidak lagi berjualan. Jumlah yang tutup kerap mendekati angka warung baru yang tumbuh.

Mengapa usaha warung bisa bangkrut? 

Memang, usaha ini mudah untuk dibangun dan terlihat tidak begitu sulit untuk dijalankan. Itulah mengapa banyak keluarga mencoba menjalankannya. Tetapi, sebenarnya usaha warung tidak berbeda dengan berbagai jenis bisnis lain yang harus dijalankan secara serius, sungguh-sungguh, dan juga pengetahuan yang memadai.

Tanpa itu, sebuah warung tidak akan bisa berjalan mulus dan akan mudah bangkrut.

Ada beberapa hal yang kerap menjadi penyebab usaha warung bangkrut dan hal-hal ini sebenarnya berkaitan dengan prinsip dasar dari bisnis dalam bentuk apapun. Tidak terpenuhinya faktor-faktor ini lah yang biasanya menjadi pangkal gagalnya sebuah usaha.

Hal-hal tersebut adalah :

1. Lokasi

Usaha warung mengandalkan pembeli dari masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Oleh karena itu, pemilihan lokasi menjadi teramat penting karena berkaitan dengan pasar pembeli yang mereka butuhkan.

Sebuah lokasi yang berada di perumahan padat cenderung menguntungkan karena berarti calon pembeli tersedia di dalam jumlah banyak.

Sebaliknya, sebuah lokasi yang berada di perumahan mewah yang penghuninya sedikit dan jarang berada di rumah adalah pasar yang buruk bagi sebuah usaha warung. Jumlah populasi yang sedikit berarti calon pembeli sedikit pula. Belum lagi, kalangan penghuninya biasanya lebih suka berbelanja ke mall atau supermarket dibandingkan pergi ke warung.

Kesalahan utama yang paling mendasar yang sering menyebabkan usaha warung gagal total adalah pemilihan lokasi. Karena biasanya mereka mengandalkan rumah sebagai tempat usaha (untuk menghemat uang sewa toko), kerap mereka mengabaikan bahwa lokasinya tidak cukup strategis dan tidak banyak calon pembelinya.

Hasilnya ketika dibuka, sebuah usaha warung sulit menjual barang dagangannya.

2. Memberi Hutang

Sebuah usaha warung tidak mengambil keuntungan besar dari setiap barang yang dijualnya. Mau tidak mau karena merupakan barang sehari-hari, yang harganya murah-murah, maka profitnya tidak bisa tinggi. Keuntungan dari sebuah warung berasal dari perputaran modal yang cepat, dengan kata lain, semakin cepat barang terjual, semakin cepat barang modal dibeli lagi, dan semakin cepat bisa dijual lagi.

Sayangnya, terkadang lingkungan sekitar membuat perputaran ini kerap tersendat. Bisa dimaklum karena banyak pengusaha warung merasa sungkan terhadap pembeli yang sekaligus juga tetangganya. Kalau tidak diberi bisa jadi bahan omongan dan gosip.

Pemberian hutang seperti ini tidaklah baik bagi sebuah usaha warung. Modal menjadi mandeg dan tidak bisa dibelikan barang dagangan dengan cepat lagi. Hasilnya, perputaran modal menjadi sangat tidak lancar.

Jika semakin banyak yang berhutang, maka semakin besar pula modal mandek yang tidak bisa diputarkan uang. Hal ini pada akhirnya menggerus modal dan membuat warung tersebut menjadi tidak sehat dan pada akhirnya bangkrut.

Pemberian hutang bukan berarti tidak boleh dilakukan, tetapi haruslah tetap diperhitungkan dengan kekuatan modal yang ada. Begitu juga dengan penagihan piutang yang harus dilakukan agar tidak ada modal yang tersendat di tangan orang lain.

3. Kurang Promosi

Bisnis warung adalah bisnis yang ketat dan kompetitif. Semua orang bisa melakukannya. Jadi, tidak heran kalau dalam satu lokasi yang berdekatan bisa terdapat banyak sekali warung. Semuanya berpikir sama.

Sudah begitu, barang yang dijual pun biasanya serupa dan sama. Maklum, karena semua mengandalkan pada penyediaan barang kebutuhan sehari-hari.

Jadi, dengan kompetisi yang ketat seperti ini, yang tidak menonjol tidak akan bisa bertahan. Mirip dengan dalam kerumunan orang, dimana untuk menonjol dan mendapat perhatian, maka ia harus berteriak.

Dan, dalam bisnis, usaha ini bernama promosi.

Dalam usaha warung, caranya bisa beragam dan tidak perlu berupa penyebaran brosus (walau tidak ada salahnya dilakukan juga). Promosi bisa berupa pemilik warung yang bersosialisasi dengan penduduk dan tetangga sekitar. Bisa juga berupa penyediaan jasa pesan antar.

Semua harus dilakukan untuk memastikan calon pembeli akan selalu teringat ketika hendak membeli barang kebutuhan sehari-hari.

Banyaknya usaha warung yang bangkrut salah satunya adalah faktor kurangnya promosi. Pemiliknya hanya diam dan menunggu saja di warungnya sampai pembeli datang. Padahal, warung tetangga begitu proaktif menarik pembeli.

4. Harga Mahal dan Barang Tidak Lengkap

Pembeli di warung umumnya sangat price concern, alias sangat sensitif soal harga. Seringnya, selisih 500 rupiah saja bisa menyebabkan mereka pindah ke warung sebelah. Apalagi kalau ibu-ibu.

Ditambah dengan persaingan yang begitu ketat, dan warung ada dimana-mana, maka penentuan harga menjadi sangat krusial. Terlalu mahal 1000 rupiah saja, bisa membuat orang yang tadinya berniat membeli membatalkan niatnya.

Apalagi kalau ternyata kemudian, warung tersebut dianggap kurang lengkap. Maklum, selain sensitif soal harga, para pembeli di warung biasanya juga malas berjalan bolak balik. Mereka inginnya ke satu warung dan urusan selesai kemudian balik ke rumah.

Jadi, kalau sekali dua kali sebuah warung tidak bisa menyediakan barang yang dicarinya, akan timbul malas dihati calon pembeli tersebut untuk berkunjung lagi. Mereka akan memilih untuk pergi ke warung lain yang sudah pasti menyediakan barangnya.

Dua hal kecil ini kerap membuat sebuah usaha warung menjadi sepi pembeli dan kurang diminati.

5. Masuknya Minimarket

Zaman dulu, tahun 1980-an untuk merasakan berbelanja ke supermarket dengan ruangan ber-AC dan nyaman, seseorang harus pergi ke tengah kota dulu.  Tetapi, zaman sekarang, hal seperti itu mudah sekali didapat dengan masuknya minimarket, seperti Indomart dan Alfamart sampai ke kampung-kampung.

Hasilnya, persaingan bukan antar warung saja, yang sama-sama bermodal tidak besar, tetapi juga dengan para pemodal besar.

Tentunya, sistem minimarket lebih menarik, sudah nyaman, dilayani dengan ramah, dan harga sudah tercantum dengan jelas di barangnya. Berbeda dengan warung biasanya yang cenderung acak-acakan dan penuh disana sini.

Harga minimarket pun kerap rendah dan biasanya mereka gencar melancarkan diskon. Dengan kekuatan modal yang dimiliki, mereka mampu melakukan hal seperti ini.

Tantangan paling berat dan terbukti di lapangan karena banyak warung tradisional bertumbangan dengan semakin berkembangnya minimarket dimana-mana.

6. Keuangan Warung Tercampur Keuangan Keluarga

Ini juga sebuah masalah klasik. Karena warung biasanya berlokasi di rumah, kerap kali modalnya terpakai untuk belanja rumah tangga. Bisa juga barang yang dijual, dipergunakan oleh anggota keluarga, dan tanpa membayar karena menganggap miliknya.

Keuangan/manajemen warung yang tercampur dengan urusan keluarga juga merupakan salah satu penyebab utama bangkrutnya sebuah warung. Bagaimana tidak, uang yang seharusnya dibelikan barang untuk dijual dipakai untuk membuat semur tahu untuk dimakan keluarga.

Istilah modal termakan biasa terjadi pada warung karena yang seperti ini.

Nah, itulah beberapa alasan penyebab sebuah usaha warung bangkrut,

Jika, memang Anda seorang pengusaha warung dan merasa usaha warung yang Anda dijalankan tidak berjalan dengan baik, ada baiknya melihat ulang, mana di antara faktor-faktor di atas yang tidka terpenuhi. Setelah itu, lakukan koreksinya dan lakukan usaha untuk mengatasi efek buruknya.




Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar