Bolehkah Membuka Jendela Commuter Line ?

Bolehkah Membuka Jendela Commuter Line ?

Pernahkah Anda naik Commuter Line yang dulunya bernama KRL Jabodetabek? Di saat peak hours atau jam sibuk, penumpang begitu banyak dan situasi di dalam kereta penuh sesak. Berdiri saja susah dan udara terasa pengap. Pada saat itu biasanya beberapa penumpang akan membuka jendela Commuter Line.

Tetapi, di saat mendekati stasiun akhir dan kepadatan penumpang sudah menurun, biasanya ada beberapa Petugas Keamanan Dalam (PKD), yang biasa menyertai perjalanan kereta, akan berkeliling. Mereka akan satu persatu menutup kembali jendela yang terbuka.

Pernahkah Anda bertanya mengapa mereka melakukan itu? Apakah memang sebenarnya penumpang boleh membuka jendela Commuter Line selama perjalanan? Adakah alasan di balik semua itu?

Sebuah hal sederhana yang kerap tidak diperhatikan oleh para penumpang. Sesuatu yang sebenarnya penting, salah satunya bagi keselamatan para penumpang sendiri.

Untuk pertanyaan pertama, yaitu, "Bolehkah membuka jendela Commuter Line, terutama dalam perjalanan?"

Jawabnnya bisa dilihat pada stiker yang berisi lambang aturan selama berada di Commuter Line. Stiker tentang aturan berkaitan dengan jendela Commuter Line ini tidak terpasang di setiap jendela, tetapi setidaknya dalam satu kereta (gerbong) ada beberapa titik yang ditempeli stiker ini.

Bentuknya seperti di bawah ini :

Bolehkah Membuka Jendela Commuter Line ?

Isinya :



"APABILA TERJADI KEADAAN DARURAT TURUNKAN JENDELA KEMUDIAN KELUAR"
Itulah kalimat yang tertulis pada stiker yang tertempel di jendela Commuter Line. Sebuah kalimat yang bersyarat.

Jawaban dari pertanyaan pertama tadi adalah "BOLEH.. DENGAN SYARAT.. DALAM KONDISI DARURAT". Terpaksa.

Bagaimanapun kalau memang situasinya memaksa, diperlukan langkah darurat dan untuk itu para penumpang boleh melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam situasi biasa untuk menyelamatkan nyawanya.

Tetapi, apakah "penuh sesak" sebuah kondisi darurat dan membahayakan "jiwa"? Jawabannya tidak. Meskipun dalam kereta penuh sesak, karena Commuter Line sekarang menggunakan pendingin udara, atau setidaknya kipas angin, situasinya bukanlah kondisi darurat.

Jadi, dengan kata lain kalau situasinya normal-normal saja dan tidak membahayakan penumpang, maka jendela itu sebenarnya TIDAK BOLEH DIBUKA.

Itulah yang menjadi alasan mengapa petugas PKD kerap menutup jendela Commuter Line yang terbuka. Salah satunya adalah karena hal itu sebenarnya tidak diperkenankan.

Hal itu justru bisa membahayakan penumpang.

Mungkin, bagi yang belum pernah mengalami sendiri akan mengatakan bahwa hal itu mengada-ada, tetapi untuk yang pernah mengalami, pandangannya akan berbeda.

Mantan pacar, di masa lalu, pernah mengalami musibah akibat jendela KRL yang terbuka. Hanya sedikit saja. Entah alasan apa, ada orang yang melemparkan batu kerikil dan batu itu bisa masuk melewati celah sempit. Ia terkena bagian mukanya.

Hasilnya, mukanya bengap dan oleh dokter diduga mengalami patah tulang hidung. Lukanya terpaksa mendapatkan jahitan dan karena bengkak, matanya tidak bisa dibuka setidaknya selama seminggu.

Saya pun pernah mengalami hal yang sama. Sebutir batu, tidak besar, dilemparkan oleh orang di luar kereta, dan mengenai kepala. Hasilnya, saya harus terduduk karena kecepatan batu ditambah laju kereta membuatnya menghantam kepala dengan keras. Pusingnya tidak terkira.

Itu adalah salah satu akibat dari jendela yang terbuka.

Memang, belakangan ini, sudah berkurang orang iseng yang melempari Commuter Line, tetapi, terkadang satu dua kali, tetap saja jendela berderak keras akibat hantaman batu dari luar.

Membuka jendela Commuter Line memang memberikan "angin dan udara segar" dalam situasi penuh sesak. Tetapi, hal itu membuka peluang bahaya untuk masuk dan melukai penumpang di dalam. Bukan hanya yang membuka jendela tetapi juga penumpang lainnya.

Itulah mengapa jendela Commuter Line, seharusnya selalu berada dalam keadaan tertutup. Jendela itu adalah benteng bagi penumpang di dalamnya. Tentunya, merasa gerah dan panas lebih baik daripada harus mendapatkan jahitan akibat lemparan batu.

Lagipula, sering penumpang mengeluh bahwa AC di Commuter Line (CL) tidak dingin. Padahal, hal itu sangat mungkin disebabkan oleh kebiasaan membuka jendela sendiri.

Pendingin udara memiliki sistem sirkulasi dengan memanfaatkan gas pendingin, seperti freon untuk melakukannya. Itulah mengapa biasanya dalam ruangan berpendingin udara, pintu harus tertutup. Hal itu untuk membuat udara di dalam ruangan dingin, sekaligus mencegah gas pendingin terbuang percuma.

Dan, hal itu tidak bisa berjalan baik ketika jendela terbuka. Gas pendingin akan mengalir keluar tanpa bisa mendinginkan udara di dalam ruangan.

Jadi, itulah mengapa jendela CL harus diusahakan dalam kondisi tertutup pada situasi normal.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel