Saat Commuter Line Penuh Sesak, Simpan Smartphone Anda !

Saat Commuter Line Penuh Sesak, Simpan Smartphone Anda !

Tahukah Anda kegiatan apa yang paling disukai pengguna Commuter Line alias KRL Jabodetabek? Jawabnya adalah bermain dengan smartphone atau gadget mereka.

Tidak saat menunggu. Tidak saat berada di dalam kereta.

Bisa dikata pandangan banyak dari mereka begitu lekat dan seolah tidak bisa lepas dari benda berbentuk kotak di hadapannya. Terkadang mereka tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya dan seolah asyik tenggelam di dalam dunianya sendiri.

Apa yang dilakukan para komuter ini memang wajar di zaman sekarang. Apalagi mereka bisa menjadi teman untuk mengusir kebosanan atau melupakan sejenak rasa lelah setelah bekerja dan terpaksa berdiri selama beberapa jam selama perjalanan.

Meskipun demikian, saking asyiknya bermain dengan gadgetnya, terkadang banyak yang tidak peduli pada sekelilingnya. Padahal ada situasi tertentu dimana sebaiknya para pengguna CL, sebutan akrab transportasi publik ini menyimpan smartphone mereka. Bisa di kantong celana atau di dalam tas.

Situasi yang dimaksud adalah ketika Commuter Line penuh sesak.

Hal ini cukup sering terjadi, terutama di saat berangkat kerja, antara jam 6-8 pagi dan pulang kantor sekitar 5-7 malam.

Situasinya bisa sangat padat. Kerap untuk berdiri secara tegak saja susah sekali. Kepadatan ini merupakan sebuah siatusi dimana seharusnya para komuter rela melepaskan smartphonenya barang sejenak.

Ada beberapa alasan tersendiri mengapa pada saat Commuter Line penuh sesak, gadget/smartphone apapun merknya harus rela mengalah dan diistirahatkan sejenak, yaitu :

1. Membuat tangan bisa bebas untuk melakukan hal yang lebih penting

Padatnya penumpang dalam kereta membuat sulit sekali untuk bisa berdiri secara normal, tegak. Belum lagi ditambah dengan gaya dorong yang dihasilkan saat CL mengerem untuk berhenti atau hentakan saat berangkat.

Semuanya menyulitkan penumpang, bagaimanapun berpengalamannya, untuk bisa berdiri dengan stabil. Seringnya badan akan terhuyung-huyung karena gerakan kereta.

Dan, untuk membuatnya menjadi stabil, penumpang akan butuh penopang atau penyangga. Disanalah fungsi tangan, yaitu untuk berpegangan. Tanpa itu, bukan tidak mungkin hasilnya adalah penumpang terjungkal, rubuh, atau mendorong penumpang lain.

Sesuatu yang bisa menyebabkan kemarahan orang lain.

Hal itu rentan terjadi ketika pandangn terlalu asyik pada layar monitor si smartphone, yang setidaknya butuh satu tangan untuk memegangnya. Belum lagi kalau bermain game yang butuh dua jempol dan akan memakai keduanya.

Ketika Commuter Line penuh sesak, setiap penumpang membutuhkan 2 tangannya dalam kondisi siap siaga untuk menghadapi berbagai hal yang terjadi selama perjalanan. Dan, adanya smartphone membuat paling tidak salah satunya tidak bisa siap sedia.

2. Resiko kerusakan dan kehilangan

Okelah kalau tidak peduli pada orang lain. Tetapi, tidak kah Anda sayang pada smartphone/gadget Anda?

Kepadatan penumpang dalam Commuter Line saat peak hour sangat luar biasa. Tidak ada jarak antara penumpang satu dengan yang lain. Bagian tubuh mereka acap kali berhimpitan dengan yang lain.

Ketika hentakan atau dorongan hadir, saat kereta berangkat atau berhenti, sangat besar kemungkinannya terjadi senggolan yang tidak disengaja. Mau tidak mau. Kondisinya memang sulit dihindarkan.

Hasilnya, mungkin sekali goyangan tidak disengaja menyenggol smartphone yang sedang Anda pegang. Tidak masalah kalau Anda kuat memegangnya, tetapi kalau tidak, smartphone bisa terjatuh ke bawah.

Potensi selamat tanpa masalah hanya 5% kalau hal itu terjadi. Begitu jatuh dan terinjak, hasilnya bisa dibayangkan sendiri. Anda harus menyediakan dana lagi untuk membeli yang baru. Meski sudah dites di pabriknya, rasanya tes smartphone tidak akan termasuk terinjak oleh kaki orang.

Yang pasti, Anda tidak bisa menyalahkan orang lain dan meminta ganti. Andalah pihak yang salah karena tidak menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Jangan tanya juga berapa hape yang melayang akibat ulah para pencopet di Commuter Line. Rasanya kalau dikumpulkan bisa membuat counter hape sendiri.

Berdasarkan pengalaman selama hampir 30 tahun di dalam KRL Jabodetabek dan sejak mengenal hape hampir 20 tahun lalu, cara terbaik memakai gadget pada saat kondisi kepadatan penumpang seperti itu adalah dengan "mengistirahatkannya" di dalam tas.

Barulah setelah kepadatan berkurang, smartphone tersebut bisa dikeluarkan kembali.

Itulah yang saya selalu lakukan selama ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel