Betulkah Tugas KPPS Pemilu 2019 Berat? Mengapa Banyak Yang Meninggal Dan Sakit?

Betulkah Tugas KPPS Pemilu 2019 Berat? Mengapa Banyak Yang Meninggal Dan Sakit?
TPS 14 KELURAHAN MEKAR WANGI KECAMATAN TANAH SAREAL KOTA BOGOR
Pemilu 2019 memang sudah melewati tahap kritis, yaitu pemungutan suara yang baru saja berlalu Rabu, 17 April 2019 yang lalu. Meskipun demikian, masih panjang perjalanannya untuk sampai tuntas.

Salah satu hal yang mungkin akan memerlukan waktu lebih panjang untuk dituntaskan adalah nasib para petugas pemungutan suara, seperti KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), Pengawas Pemilu, dan masih banyak pihak yang lainnya.

Yang paling mengenaskan dan menjadi perhatian publik adalah nasib KPPS. Sejauh ini sudah banyak sekali anggota KPPS yang bertumbangan, baik meninggal dunia, sakit, dan keguguran. Beberapa di antaranya bahkan menghembuskan nafas terakhir di lokasi pemungutan suara.

Hal itu tentu menimbulkan banyak tanda tanya mengapa hal itu bisa terjadi. Mayoritas anggota masyarakat mengerenyitkan dahi dan heran karena tidak bisa mengerti tentang seberat apakah tugas yang diemban para anggota KPPS sehingga ada yang harus mengorbankan jiwanya.

Betulkah Tugas KPPS Pemilu 2019 Berat? Mengapa Banyak Yang Meninggal Dan Sakit?


Apakah memang tugas KPPS berat dan membahayakan nyawa? Bukankah tugasnya hanya membuka suara, menghitung dan menuliskannya di atas kertas. Pekerjaan administrasi yang tentu di benak banyak orang tidak membutuhkan kegiatan fisik yang membahayakan.

Lalu, kenapa ada yang sampai meninggal dunia?

Jawabannya? Sulit untuk bisa memahami kalau hanya memandang bahwa tugas KPPS hanyalah bersifat administrasi seperti yang banyak dipikirkan orang.

Bukan Hanya Administrasi Saja

Hal yang pertama harus dibuang jika hendak mengerti berat atau tidaknya tugas KPPS adalah pemikiran bahwa tugas KPPS hanyalah bersifat administrasi saja.

Jauh dari itu.

KPPS lebih sebagai tim koordinator yang merangkap segala pekerjaan untuk melakukan pemungutan suara di wilayahnya.

Sebagai contoh kecil adalah TENDA. Pemilih tentu menyadari bahwa ketika mereka datang ke TPS, lokasinya sudah ditata seperti sebuah kantor sementara kecil dengan meja dan bangku, serta perlengkapan lain ada di dalamnya.

Iya kan?

Lalu siapa yang memasang semua itu? KPU (Komisi Pemilihan Umum)? Pastinya bukan. Semua itu masuk dalam tugas KPPS. Mereka harus menyediakan dalam artian mulai dari memilih lokasi, memesan tenda, mencari peminjaman bangku, menata, intinya sampai TPS (Tempat Pemungutan Suara)  menjadi layak dan akomodatif bagi pemilih.

KPU hanya menyediakan dana dan panduan standar bentuk TPS saja. Sisanya anggota KPPS harus berpikir dan berusaha mencari perlengkapannya sendiri. Tidak jarang bahwa untuk memastikan TPS bisa berfungsi sesuai target, maka anggota KPPS harus ikut serta bahu membahu mengangkut kursi dari lokasi peminjaman dan kemudian menurunkan di lokasi, memasangnya sampau selesai.

TPS 14, Kelurahan Mekar Wangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, meminjam dari sekolah terdekat perlengkapan meja dan kursi.

Betulkah Tugas KPPS Pemilu 2019 Berat? Mengapa Banyak Yang Meninggal Dan Sakit?

Lalu, jangan lupa juga untuk mengedarkan C6 atau Surat Undangan Pemilih, yang tidak bisa diwakilkan pihak lain, anggota KPPS harus mau berkeliling dan berkunjung ke warga untuk memberikannya.

Tugas anggota KPPS bukan hanya pada hari-H saja, yaitu hari pemungutan suara. Tugasnya sudah dimulai jauh sebelum itu.

Jadi, bukan hanya tugas administrasi saja, banyak tugas fisik yang kerap terpaksa harus dilakukan untuk memastikan TPS-nya berjalan tepat pada waktunya.

Kemudian, gabungkan dengan beberapa hal lain di bawah ini yang rasanya berperan besar terhadap penurunan kesehatan dan menyebabkan sakit dan meninggalnya belasan KPPS pada Pemilu 2019 ini.

1) Kurang Tidur

TPS harus sudah siap berfungsi pada pukul 07.00 saat hari pemungutan suara. Artinya tenda dan perlengkapan lain harus sudah terpasang sebelum itu. Tidak jarang anggota KPPS harus bekerja sampai malam hingga harus begadang untuk memastikan semuanya terlaksana.

Belum ditambah dengan fakta bahwa surat suara dan logistik untuk pemungutan suara datang pada malam hari.

Kesemua itu menyebabkan banyak anggota KPPS hanya menyisakan waktu sedikit untuk tidur sehari sebelum hari-H.

2) Jam Kerja Yang Panjang

Pernahkah Anda menyadari bahwa petugas KPPS di Pemilu 2019 ini bekerja hampir atau lebih dari 24 jam?

Semua anggota KPPS harus sudah berada di TPS pukul 06.00 tanggal 17 April 2019 dan baru bisa kembali ke rumah paling tidak 04.00 tanggal 18 April. Bahkan, banyak yang baru bisa menyelesaikan tugas lebih dari waktu itu.

Semua untuk memastikan penghitungan suara selesai pada 18 April 2019 pukul 12.00 sesuai yang ditetapkan Mahkamah Konstitusi.

Dua puluh empat jam? Bisa bayangkan bekerja selama itu?

Jam kerja yang 3 kali lipat waktu normal yang ditetapkan Undang Undang no 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Pekerjaan seringan apapun, bahkan sekedar menonton TV saja bisa menjadi sangat berat dilakukan dalam waktu sepanjang itu. Coba saja kalau tidak percaya lakukan sendiri.

3) Makan Tidak Teratur

Loh, memang tidak ada uang makan dari KPU untuk KPPS? ADA! Besarannya 135 ribu per orang untuk TPS dimana kami bertugas, yaitu TPS 14.

Cuma pertanyaannya, dengan pekerjaan melayani (para pemilih) dan tidak bisa dittinggal karena dikejar deadline/tenggat waktu, sulit untuk bisa makan teratur. Apalagi TPS tidak boleh ditinggal dalam keadaan kosong tanpa petugas untuk menghindari terjadi sesuatu yang tidak diinginkan serta kecurangan.

Belum lagi siapa yang menyediakan atau membeli makanan? Minuman? Petugas KPPS?

Tambah lagi dengan suasana tegang dan fokus pada pekerjaan.

Oleh karena itu tidak heran bahwa salah satu hal yang bisa menyebabkan petugas KPPS sakit adalah karena makan yang tidak teratur.

4)  Pekerjaan Menumpuk 

Tugasnya memang tidak sulit. Hanya menghitung dan menjumlah. Banyak yang bilang anak kecil saja bisa.

Tidak salah juga. Pekerjaannya hanya ringan sebenarnya, seperti mengisi formulir dan penjumlahan yang tidak rumit. Mudah sekali. Tidak salah kalau anak SD juga bisa. Hanya butuh ketelitian saja.

Hanya saja, bayangkan sendiri situasi seperti ini. Tugas saya sebagai KPPS 2 salah satunya adalah mengisi nomor TPS, nama Kelurahan dan Kecamatan, Kota, dan nama Ketua TPS pada surat suara. Mudah kan?

Yap mudah.

Tapi, gabungkan dengan cerita bahwa Anda harus menulis semua itu pada 5 jenis surat suara dan pemilih sebanyak 180 orang. Hasilnya, Anda harus mengisi data tadi pada 5 x 180 = 900 surat suara.

Sudah?

Belum!

Tambahkan bahwa semua itu harus selesai dalam waktu singkat karena para pemilih sudah mengantri. Deadlinenya adalah dalam hitungan menit bahkan detik karena jangan sampai pemilih tidak mendapat layanan segera. Bisa rusuh.

Pernah merasakan jari kebas karena terlalu banyak menulis? Belum? Saya sudah saat menjadi KPPS kemarin. Ratusan surat suara menyebabkan kulit jari terasa kebal dan jari terasa sangat pegal.

Sudah selesai tugasnya?

BELUM! Karena itu baru pemungutan suara dan harus dilanjutkan dengan penghitungan suara, yaitu dengan membuka satu persatu surat suara tadi dan mengisikan pada formulir dan salinannya yang jumlahnya sangat banyak.

Dan, jangan lupa juga semua formulir dan salinannya harus dibubuhi tanda tangan setiap anggota KPPS, mulai dari KPPS 1 (Ketua) sampai KPPS 7. Tidak boleh ada yang lewat. Bahkan sampul saja harus dibubuhi tandatangan.

Silakan klik link ini jima ingin tahu berapa ratus tandatangan yang harus dibubuhkan seorang anggota KPPS : Tahukah Anda berapa kali anggota KPPS harus tanda tangan?

5) Tegang

Formulir terbatas. Terutama yang menggunakan hologram.

Saksi bertampang serius dan waspada, takut dicurangi.

Pemilih ingin tahu calon yang didukungnya menang atau tidak.

Pengawas selalu memantau gerak gerik anggota KPPS.

Tegang adalah bagian dari kehidupan anggota KPPS. Takut salah, bukan cuma karena formulir terbatas, tetapi juga tidak ingin menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu dari saksi, pengawas, atau bahkan pemilih.

Tahu rasanya?

Sebuah hal kecil seperti amplop yang ternyata tidak ada di dalam kotak suara yang datang saja, bisa membuat tegang suasana. Belum lagi kalau terjadi kesalahan hitung, yang membuat penghitungan harus diulang dan ketegangan meningkat.

Perasaan tegang jelas tidak membantu kondisi KPPS yang sudah capek, kurang tidur, makan tidak teratur. Pastinya pencernaan akan terganggu. Begitu kata dokter.

--

Berat atau ringan memang relatif alias tergantung pada individunya. Kebanyakan anggota KPPS menerima tugas bukan karena honor, tetapi karena ingin memberikan sumbangsih bagi demokrasi negeri ini.

Meskipun demikian, secara ukuran normal, dari lama kerja, tekanan yang ada, waktu yang sempit, pekerjaan sebagai anggota KPPS tidak bisa disebut ringan. Berat malah.

Tidak heran kondisi kesehatan banyak anggota KPPS akan menurun. Bukan sekedar pegal, tetapi perut sakit, keringat dingin, dan hal-hal lain dialami. Tidak heran juga kalau ada yang sampai dirawat di Rumah Sakit dan bahkan sampai menghembuskan nafas di tempat.

Ada baiknya para pemangku kebijakan di negeri ini untuk membantu para KPPS di masa depan. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi beban kerjanya, yang membesar sebagai efek dari diberlakukannya pemilu serentak untuk Pilpres/Pileg untuk DPR/DPD/DPRD Tingkat I/II. Bebannya menjadi luar biasa besar dan banyak.

Sesuatu yang menyebabkan kondisi fisik sekuat apapun akan menurun drastis.

Entah apakah akan terdengar atau tidak. Kalau tidak, pastinya akan jatuh korban yang sama dari lingkungan KPPS di masa datang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel