JANGAN SEMBARANGAN MENGGUNAKAN COTTON BUDS UNTUK MEMBERSIHKAN TELINGA

Bagi yang merasa sensitif terhadap sesuatu hal (baik karena melihat, mendengar, ataupun membaca) sehingga menimbulkan rasa mual, saya menyarankan untuk tidak membaca postingan ini. Karena, tulisan ini mengandung unsur-unsur yang dapat menimbulkan rasa itu tadi. :-D Tulisan ini akan membahas soal kotoran. Kotoran di telinga, maksudnya. Tetapi, jika memang memaksa untuk membacanya, saya tidak melarang. Hanya satu yang akan saya ingatkan, resiko ditanggung sendiri, ya! :-D


Saya termasuk orang yang sering membersihkan kotoran di dalam lubang telinga. Karena, saya takut akibatnya jika tidak rajin membersihkan kotoran di dalam lubang telinga. Berdasarkan informasi yang pernah saya dapat, jika tidak rajin membersihkan telinga, maka serumen/kotoran telinga akan menumpuk dan tentunya akan mengakibatkan gangguan pada indera pendengar. Sedikitnya, seminggu sekali saya akan membersihkan telinga saya menggunakan cotton buds.

Serumen/kotoran telinga yang saya miliki bertipe basah. Makanya, saya selalu membersihkannya dengan cotton buds. Banyak yang menyarankan untuk menggunakan serumen hook. Tetapi, saya tidak berani. Saya merasa cotton buds lebih aman dibanding cerumen hook

***

Pandangan saya menyapu ruang tunggu yang dipenuhi pasien yang hendak berobat di poliklinik RS. Salak, pagi itu. Sambil menyusuri ruang tunggu pasien, saya mencari letak loket pendaftaran. Sudah lama sekali sejak saya terakhir saya berobat di poliklinik ini, banyak perubahan yang terjadi.

Saya memang hendak berobat ke dokter THT. Ada masalah di indera pendengar saya beberapa hari ini. Setelah menemukan loket pendaftaran, saya pun ikut berbaris mengantri di depan loket. Ada dua orang yang mengantri di depan saya. Sambil menunggu giliran, mata saya berkelana, melihat ke sekeliling, terutama yang menempel di dinding-dinding. Kebanyakan yang menempel pamflet-pamflet yang berisi tentang penyakit dan kebersihan, juga langkah-langkah mendaftar sebagai pasien. 

Tiba-tiba, tertangkap oleh mata saya tulisan 'jadwal praktek dokter' yang menempel di dinding. Kebetulan, saya memang belum tahu jadwal dokter THT di poliklinik ini. Serta merta, saya keluar dari antrian untuk melihat infomasi jadwal tersebut. 

Hari ini, kan, hari Senin, kata saya membatin. Sementara, jadwal praktek dokter THT untuk hari Senin jatuh di pukul 19.30 WIB. Untuk hari Senin hanya ada di jam tersebut. Sementara, dokter THT yang praktek di pagi hari ada di hari Selasa, Rabu, dan Kamis. 

HUAAAA!!!..

Untuk kembali lagi di sore nanti, kayanya saya tidak bisa. Apalagi, kalau harus  menunggu sampai besok. Telinga sebelah kanan saya sejak hari Sabtu minggu lalu serasa tersumbat. Mengganggu sekali. Kemampuan mendengarnya pun semakin berkurang dalam dua hari ini.

Akhirnya, saya keluar dari poliklinik itu sambil berniat untuk mencari dr. THT di poliklinik RS. PMI. 

Pasien di poliklinik RS. PMI tak kalah banyak dengan di poliklinik RS. Salak tadi, ternyata. Saya pun langsung menuju ke meja informasi untuk mengisi form identitas diri. Petugas di bagian itu kemudian bertanya, 'Mau ke dokter mana, Mba?'

'Ke dokter THT,' jawab saya kemudian melanjutkan lagi mengisi data diri.

'Wah..ke dokter THT, ya, Mba?..Kayanya, kalo jam segini, mah, udah ga bisa, Mba..Udah penuh. Harus pagi-pagi datangnya,' kata petugas itu tadi.

'Eh, udah ga bisa, Pak?' jawab saya seraya menaruh kembali pulpen di tempatnya. Form data identitas diri telah saya isi.

'Sekarang udah jam 10 lewat,' ujar petugas itu sambil melihat jam tangannya. Saya pun melihat jam dinding yang ada di poliklinik itu. Pukul 10.10 WIB.

Jam 10 berarti sudah termasuk siang, ya? saya membatin dalam hati. :-D

'...Hmmm..Mba sudah pernah berobat ke sini?' tanya petugas itu tadi.

'Belum,' jawab saya.

'Kalau begitu, tanya dulu aja ke loket 4 itu, Mba.' lanjut petugas itu tadi.

Saya pun menuju loket 4, loket pendaftaran untuk pasien baru. Saya memang belum pernah berobat ke poliklinik RS. PMI ini. Kemudian, saya ikut berbaris mengantri. Hanya ada 1 orang di depan saya. Ketika tiba giliran saya, setelah menyerahkan form yang tadi telah saya isi, oleh petugas di sana saya diminta menunggu sampai giliran saya dipanggil.

Ketika giliran nama saya dipanggil, ternyata saya diberi Kartu Identitas Berobat. Setelah itu, oleh petugas, saya diminta untuk ke loket Kasir, untuk membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 100.000. Sesampai di loket kasir, saya mengantri kembali. Ada 2 orang yang mengantri di depan saya. 

Tiba giliran saya. Saya pun menyerahkan Kartu Identitas Berobat yang baru tadi saya miliki. :-D

Ibu Kasir itu pun bertanya, 'Mau ke poli apa?'

'Ke poli THT, Bu,' jawab saya.

'Poli mata?' tanya Ibu Kasir itu lagi. 

'Poli THT, Bu,' jawab saya lagi.

'Ohhhh..Udah tutup kalo ke poli THT, mah..Harus pagi-pagi banget,' jawabnya kemudian sambil menyerahkan kembali Kartu Identitas Berobat saya.



Ya Ampunnnnn!!!..batin saya sambil mengambil kembali KIB saya. Kamana deui atuh? 

Sambil menuju ke pintu ke luar, saya melewati ruang praktek dokter THT. Segera saya melihat jadwal yang tertera di sana. Ada 2 dokter yang praktek , jadwal mereka pagi semua. Tidak ada yang siang ataupun sore.

Akhirnya, saya putuskan untuk ke poliklinik Afiat yang masih berada di lokasi RS. PMI. 

Berdasarkan penglihatan saya, pasien di ruang tunggu poliklinik Afiat tidak sepenuh poliklinik di dua rumah sakit tadi. Saya pun menghampiri Bapak petugas yang memberi nomor antrian. 

'Mau ke dokter mana, Mba?' tanya Bapak petugas itu.

'Ke dokter THT, Pak,' jawab saya.

'Ohhh..dokter THT. Jam berapa sekarang?' tanyanya ke diri sendiri sambil melihat jam tangannya. 'Jam 10.25. Kayanya dokter yang sekarang udah tutup, Mba.. Ada lagi nanti jam 2.'

Ya ALLAH!!!!..

Apakah saya harus mengalami 3x penolakan pada hari ini?..Lalu, bagaimana kabarnya dengan kuping saya yang budg sebelah ini?..*emot nangis bombay*

'Tapi, coba ke sini, Mba,' ujarnya lagi sambil mengajak saya ke salah satu petugas bagian pendaftaran. 

'Mau ke dokter THT. Masih bisa, ga?' tanya Bapak petugas itu ke salah satu petugas bagian pendaftaran.

'Jam berapa sekarang?' tanya Mba petugas pendaftaran sambil melihat jam tangannya. 'Masih bisa, tapi setelah ini tutup, ya,' lanjutnya.

Saya pun dikasih nomor antrian oleh Bapak petugas tadi sambil diminta untuk menuggu giliran dipanggil. Setelah mendaftar, saya menuju ruang praktek dokter THT. Tak berapa lama, saya pun dipanggil untuk diperiksa. Ndilalah kersaning Allah, saya jadi pasien terakhir di detik-detik praktek dokter berakhir..:-D Jadi, ga perlu menunggu lama. :-D

Saya disambut oleh senyuman ramah dokter THT yang praktek di pagi itu. Dokter senior, menurut penilaian saya. Seumur-umur, baru kali ini ke dokter THT. :-D

'Julie kenapa?' tanya dokter itu ramah.

'Ini, Dok. Sejak hari Sabtu, kuping saya budeg sebelah. Yang sebelah kanan,' jawab saya.

'Ya, sudah. Duduk di situ,' kata dokter sambil menyuruh saya untuk duduk di kursi periksa.

'Sejak kapan begini? Julie sering maen cotton buds, ya?' tanya dokter kemudian setelah melihat kondisi telinga saya.

'Iya, Dok. Sebenernya udah dari sebulan yang lalu. Setiap bersihin kuping, koq kaya ada lendir-lendir coklat terus ada kaya pasir-pasir item gitu, Dok. Gatel banget. Makanya, akhir-akhir ini sering saya bersihin,' jawab saya mengadu.

'Iya, tapi, jangan setiap kali dibersihin. Ya ampun, sampe item begini. Lecet-lecet begini lagi,' ujar dokter lagi sambil terus memeriksa lubang telinga saya.

Ibu perawat yang bertugas membantu dokter hanya tersenyum. Seakan tahu tindakan apa yang akan diambil oleh sang dokter, tanpa diminta, perawat itu pun dengan sigap mempersiapkan peralatan yang akan dibutuhkan. Jadi, sedetik kemudian, dokter mulai mengambil tindakan pembersihan lubang telinga saya. Tak sampai 10 menit, pembersihan itu pun selesai. 

CLINGGG!!!..

'Gimana?..Sudah lebih enakan kupingnya?' tanya dokter tiba-tiba.

'Sudah, Dok..Sudah enak banget. Terima kasih ya, Dok,' jawab saya lega karena saya sudah bisa mendengar normal kembali.

'Pusing, gaKalo pusing, merem aja,' kata dokter tiba-tiba. Memang, kepala saya serasa pusing 7 keliling. Saya pun langsung memejamkan mata. Tak sampai tertidur pulas, sih. Hanya 2 menit saja.   :-D

Setelah merasa tidak pusing lagi, saya duduk di kursi pasien. 

'Kalo gatel, diginiin aja,' kata dokter sambil memberi contoh menekan-nekan tragus perlahan-lahan. (saya ga tau nama lain dari tragus, maafkan). :-D

'Iya, Dok. Tapi, sedikitnya seminggu sekali kalo kuping kerasa gatel sama saya suka dikorek-korek pake cotton buds. Itu gimana, Dok?' tanya saya.

'Ya itu tadi, Digituin aja. Kecuali, kalo tetep mau pake cotton buds. Berarti nanti sakit terus, ke dokter lagi. Ini ga perlu saya resepkan obat tetes' jawab Pak Dokter kalem sambil meneruskan menulis resep. 

Setelah mengucapkan terima kasih dan mendapat resep, saya keluar dari ruang praktek dokter itu. Langsung ke bagian farmasi untuk menebus obat. Saya diberi antibiotik dan pereda nyeri. Alhamdulillah, sejak itu, pendengaran saya kembali seperti semula.

***

Kalau begitu, sebenarnya, yang sering kita sebut kotoran telinga itu kurang tepat jika disebut kotoran telinga. Iya, kan? Karena, seyogyanya, kotoran adalah sesuatu yang harus dibuang. Sementara, salah satu fungsi yang sering kita sebut kotoran telinga itu adalah untuk melindungi telinga. *pusing, kan?* :-))

Yang pasti, saya harus menghentikan kebiasaan membersihkan lubang telinga menggunakan cotton buds. Karena, biasanya, seminggu sekali saya akan membersihkan lubang telinga saya menggunakan cotton buds. Atau, jika terasa gatal, maka serta merta dengan menggunakan cotton buds, saya akan mengorek lubang telinga saya. 

Sekitar sebulan yang lalu, saya memang merasa ada yang tidak beres dengan telinga sebelah kanan saya. Saat itu, saya merasa telinga sebelah kanan saya gatal sekali dan ada nyeri celekit-celekit. Langsung saya korek lah dengan cotton buds

Anehnya, kotoran telinga yang melekat di cotton buds sejak saat itu bentuknya tidak seperti biasanya. Agak encer, berwarna coklat muda, dan ada seperti butir-butir pasir berwarna hitam, juga sedikit darah. Mungkin karena lecet dikorek cotton buds. Tapi, hanya di telinga sebelah kanan.

Karena tak terjadi gangguan apa-apa, saya biarkan saja keadaan seperti itu. Pastinya, setiap gatal, ya saya korek. Tapi, frekuensi gatalnya semakin hari semakin sering. Kadang, sehari bisa 2-3 kali saya mengorek kuping. 

Puncaknya hari Sabtu menjelang sore, minggu lalu. Saat itu, seperti biasa, ketika terasa gatal dan nyelekit-nyelekit di lubang kuping sebelah kanan, saya langsung mengoreknya dengan cotton buds.

Selagi asyik mengorek lubang telinga, tiba-tiba...PLOOOOPPP!!!..Kuping saya sebelah kanan seperti tersumbat. Sedetik, dua detik..Semenit, dua menit..Koq, belum kembali normal? 

Pikir saya saat itu, seperti ketika kita berada di daerah ketinggian di mana kuping akan terasa seperti tersumba, biasanya, tak lama kemudian, pendengaran kembali normal. Tetapi, saat itu, selepas 5 menit belum ada perubahan, saya pun menjadi panik. :-))

Mengadulah saya kepada salah seorang kakak saya. Oleh kakak saya, saya dibawa ke salah satu pengobatan alternatif yang ada di dekat rumah saya. :-D 

'Lubang kuping, mah, jangan dikorek-korek. Apalagi pake cotton buds, korekan kuping yang kaya sendok ujungnya, tissue, ujung handuk..Kalo mo ngebersihin kuping, daerah luarnya aja,' ahli terapi itu menyarankan.

Karena, menurutnya, jika dibersihkan dengan cotton buds, serumen malah akan terdorong menutupi gendang telinga, sehingga bisa menyebabkan infeksi dan akibat-akibat lainnya. 

Setelah dipijit bagian kaki dan dekat telinga, ahli terapi itu bilang, 'Nanti, 2-3 jam bakal kebuka lagi, koq. Gada papa. Tapi, jangan dikorek pake cotton buds lagi, ya!' begitu pesannya sebelum saya dan kakak pamit pulang.

Benar saja! Tak mencapai 2 jam, pendengaran saya kembali normal. Senangggg sekali rasanya. Saking senangnya, ketika malam tiba, menjelang tidur, seperti biasa, saya menonton video di telepon seluler  menggunakan earphone. Tak lama kemudian..PLOOOPPPPPPP!!!..Kuping saya tersumbat lagi!!..

YAHHHHHHH..!!!

Salah sendiri. Hadeuhhh..Apa mau dikata, akhir minggu kemarin saya lalui dengan tidak nyaman. Ternyata, pemakaian earphone dan cotton buds juga dapat menjadi penyebab kuping tersumbat. 

Untung, 2 hari berikutnya, saya berhasil menemui dokter THT sehingga saya bisa terlepas dari masalah yang tidak membuat nyaman ini. :-))

Sekali lagi, saya sangat bersyukur indera pendengar saya kembali berfungsi normal. Kejadian kemarin menjadi sebuah pelajaran yang harus saya ingat selalu. :-D 

Ohiya, saya pun mendapat informasi dari teman adik saya. Katanya, jangan terlalu sering membersihkan lubang telinga. Jika dibersihkan sebaiknya 1 atau 2 tahun sekali. Itupun harus dilakukan oleh dokter THT.

***
Oiya, saya ga mengambil foto. Apalagi di ruang praktek. Karena, di pusat-pusat layanan masyarakat tidak diperkenankan untuk mengambil gambar/foto. Yang saya ambil cuma foto Kartu Identitas Berobat PMI Bogor.

:-D










Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel