Mengapa Ada Biaya Harus Dibayar Pasien Untuk Sekantung Darah, Padahal Ada Donor Yang Memberi Gratis

Mengapa Ada Biaya Harus Dibayar Pasien Untuk Sekantung Darah, Padahal Ada Donor Yang Memberi Gratis

Lagi. Hal yang sama kembali terjadi. Meskipun sudah berulangkali dijelaskan dan sebenarnya sudah jelas, tetap saja ada yang meributkan mengenai adanya biaya yang harus dikeluarkan pasien untuk sekantung darah. Padahal, yang meributkan hal itu merasa, sebagai donor darah, ia memberikannya sebagai gratis untuk membantu orang lain. Beritanya bisa dibaca di SINI.

Sesuatu yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan viralnya berita ini adalah karena masalah kurangnya pengetahuan dari yang menyebarkan berita.

Memang, tidak salah bahwa sebagai donor darah, seseorang akan memberikannya secara cuma-cuma demi tujuan mulia. Untuk itu mereka harus melewati institusi resmi, dalam hal ini di Indonesia adalah Palang Merah Indonesia. Merekalah yang mengambil dan kemudian menyalurkan kepada berbagai rumah sakit di negara ini.

Nah, kemudian pasien, yang memerlukan memang harus mengeluarkan biaya untuk menebusnya, tergantung banyaknya kantung darah yang diperlukan.

Jual beli darah? Apakah darah yang didapat "gratis" dari pendonor diperjualbelikan?

Jangan berprasangka buruk dulu.

Itu bukan jual beli.

Jika memang Anda pernah menjadi pendonor, tentunya Anda akan menyadari beberapa hal, yaitu

  1. Darah tidak ditransfer langsung dari pendonor kan?
  2. Sebelum diambil darahnya, pendonor akan diperiksa dulu golongan darahnya dengan menggunakan jarum, tekanan darahnya, dan kekentalan darahnya
  3. Darah didapat dengan menusukkan "jarum suntik" ke urat nadi
  4. Darah dialirkan melalu selang ke dalam kantung plastik khusus
  5. Pendonor biasanya mendapat sekantung makanan pengganti 
Itu baru sebagian saja dari yang dialami saat donor darah. Masih ada proses lain yang tidak terlihat di balik itu, seperti pengecekan darah di laboratorium untuk memastikan kesehatannya, kemudian memisahkan beberapa bagian darah, seperti trombosit dan lain-lainnya.

Prosesnya masih panjang.

Lalu, darimana Palang Merah Indonesia mendapatkan dana untuk membeli :

  1. Jarum suntik (sekali pakai)
  2. Kantung/labu plastik (juga sekali pakai)
  3. Berbagai proses di laboratorium
  4. Makanan pengganti bagi sang pendonor
Semakin banyak pendonor maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar pula. Kalau tidak ada yang mengganti biaya ini, maka PMI bisa berhenti beroperasi mencari darah yang penting bagi keselamatan banyak orang. Biayanya tidak akan tertutupi kalau ongkos pembelian peralatan dan proses tidak digantikan.

Nah, dalam hal ini, ongkos itulah yang dibebankan kepada pasien. Bukan darahnya. Darahnya tetap gratis dan karena misi PMI dan donor darah untuk menyelamatkan nyawa orang, darah tidak diperjualbelikan. Darah itu tetap cuma-cuma.

Penggantian biaya peralatan dan proses ini penting sekali, meski memberi kesan terjadi jual beli, tetapi sebenarnya tidak. Penting karena kalau PMI tidak bisa beroperasi akibat masalah biaya yang tidak tercover, hasilnya suplai darah akan berkurang dan banyak pasien yang butuh akan kesulitan mendapatkannya.

Viralnya berita tidak jelas tentang jual beli darah ini sangat berbahaya bagi kelangsungan siklus donor darah. Sifatnya yang negatif mendorong orang tidak mau lagi mendonorkan darahnya karena tidak ingin dikomersilkan. Dengan begitu suplai darah sehat untuk yang sakit otomatis akan berkurang.

Sayangnya, hal ini disebabkan oleh pemahaman yang salah soal biaya yang dikenakan dianggap sebagai menjual darah.

Kalau tidak percaya, coba saja lakukan donor darah sendiri. Anda akan menemukan berbagai hal yang disebutkan di atas.

(Saya sendiri pernah memerlukan banyak kantung darah untuk adik yang terkena pendarahan, dan disana ada penjelasan dari petugas mengenai untuk apa biaya diterapkan. Seharusnya hal ini sudah jelas sekali dan tidak diasumsikan lain)


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel