Menyampaikan Aspirasi Tidak Perlu Harus Demo , Lewat Blog Juga Bisa


Beberapa hari belakangan ini, Indonesia seperti dipenuhi dengan berita tentang demo atau lengkapnya demonstrasi terkait dengan UU KPK dan RKUHP yang kontroversial. Tidak hentinya gelombang demo mahasiswa dan berbagai kalangan memenuhi jalanan depan gedung DPR.

Menyebalkan? Tidak juga sih. Demonstrasi adalah salah satu bentuk hak warga negara untuk menyampaikan aspirasi dan hal itu dijamin oleh Undang-Undang Dasar atau Konstitusi Indonesia. Bukan sebuah masalah, kalau semua berjalan lancar dan tanpa kekerasan.

Sayangnya, terkadang, seperti yang baru saja terjadi, demonstrasi mahasiswa berubah menjadi kericuhan yang bukan saja menyebabkan korban luka-luka, tetapi bahkan meninggal dunia. Belum ditambah dengan berbagai kerusakan fasilitas umum.

Memang sulit dihindarkan, ketika ribuan massa bergerombol, dalam jumlah besar, di tengah terik matahari, dan emosi meningkat, sulit sekali untuk mengontrol apa yang terjadi. Kekerasan kerap menjadi salah satu hasil dari kombinasi semua itu.

Nah, sebenarnya, hal itu bisa dihindari kalau semua orang menyadari bahwa untuk menyampaikan aspirasi sendiri masih banyak cara lain. Demo hanyalah salah satu bentuknya saja. Masih ada banyak cara lain.

Salah satu dari cara alternatif penyampaian pendapat itu adalah lewat media blog.

Lucu memang bagi banyak orang, tetapi memang begitulah adanya.

Seseorang bisa menuangkan apa pandangan, opini, atau sikapnya dalam bentuk tulisan, foto, atau video lewat media blog.

Contohnya, Denny Siregar, yang kerap menyuarakan pandangan dan sikap politiknya melalui webnya.

Itu hanyalah salah satu contoh dari pemanfaatan blog untuk menyampaikan aspirasi.

Tentu saja berbeda dengan cara menyampaikan pendapat di jalanan ala demo. Tidak perlu panas-panasan, tidak perlu menyusahkan orang lain, tidak perlu beresiko terpicu untuk melakukan kekerasan.

Semua bisa dilakukan dari ruangan yang nyaman, seperti rumah atau kafe. Bisa dilakukan sambil kongkow dengan teman-teman dan keluarga.

Soal efektivitasnya sendiri tergantung pada kemampuan orang di belakang blognya. Jika ia bisa memancing pembaca untuk mengikuti pandangannya, ia bisa punya pengikut ribuan dan bahan puluhan ribu.

Seorang blogger bisa menjadi seorang influencer yang pengaruhnya sangat besar di dalam masyarakat. Sudah terbukti banyak blogger di dalam dan luar negeri yang menggunakan blog sebagai medianya untuk menggiring opini dan pandangan banyak orang.

Efektivitasnya untuk menyampaikan aspirasi dan sekaligus merengkuh pengikut sangat besar. Bahkan, bisa jauh lebih besar efeknya daripada berdemo di jalanan seperti yang dilakukan para mahasiswa beberapa hari yang lalu.

Pandangan yang ditulis dan dikemas dalam sebuah tulisan yang bagus akan bisa merasuk masuk ke dalam pemikiran orang lain.

Cuma, sayangnya, banyak yang tidak menyadari hal itu. Bisa juga mengerti dan tahu, tetapi menganggapnya kurang keren dibandingkan memakai jaket almamater universitas terkenal dan diliput televisi.

Bisa juga karena hasilnya tidak instan. Harus dibangun dan kerap membutuhkan waktu lama untuk melakukannya.

Entah yang mana alasan yang mendorong mahasiswa, yang seharusnya tahu tentang blog, untuk turun ke jalan. Mungkin karena niatnya bukan untuk menyampaikan aspirasi, tetapi lebih kepada memberi tekanan kepada pemerintah.

Tetapi, hal itu tidak menafikan bahwa blog bisa menjadi sarana untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi. Tidak bedanya dengan sebuah demo.

Hanya, dengan cara yang lebih damai, santun, tidak melelahkan, dan tentunya tidak membuat orang lain repot.

Iya kan?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel