4 Hal Yang Harus Diingat Sebelum Update Status Atau Berkomentar Di Media Sosial

Hal Yang Harus Diingat Sebelum Update Status Atau Berkomentar Di Media Sosial

Media sosial sudah menjadi salah satu bagian tak terpisahkan bagi masyarakat zaman digital seperti sekarang ini. Bukan hanya generasi millennial saja penggunanya, tetapi berbagai kalangan masyaraka dari generasi yang lebih tua pun aktif memanfaatkan produk perkembangan teknologi yang satu ini.

Setiap hari ada jutaan orang yang beraktifitas di medsos, baik sekedar update status atau berkomentar di postingan/status orang lain.

Dunia menjadi semakin semarak dengan berbagai cuitan, opini, pandangan.

Tetapi, kehadiran media sosial tidak selalu menghadirkan hal yang positif bagi kehidupan seseorang. Tidak jarang, kegiatan di dunia maya ini berimbas negatif pada kehidupan seseorang dan keluarganya. Contoh terbaru adalah hukuman disiplin yang harus dilakoni mantan Dandim Kendari karena status di media sosial istrinya.

Hal itu menunjukkan bahwa siapapun pengguna media sosial harus bijak dalam menggunakannya. Kebebasan berpendapat memang dijamin undang-undang, tetapi bukan tanpa batas. Seringkali apa yang kita anggap sebagai biasa sebenarnya sudah melanggar hak orang lain dan juga hukum.

Untuk itulah, ada baiknya kita selalu mengingat beberapa hal kecil sebelum jempol menekan tombol "post" atau "submit" yang berarti kita menyetujui untuk emngupdate status di media sosial atau mengirimkan komentar kita tentang suatu hal.

Hal-hal kecil itu adalah :

1. Kebebasan berpendapat dijamin, tetapi TIDAK TAK TERBATAS


Setiap orang memang bebas berpendapat, tetapi tidak berarti pendapatnya bebas dari segala hal tanpa batas. Tetap saja ada batasnya, yaitu hak orang lain dan juga aturan atau hukum yang berlaku.

Bila pendapat kita melampaui batas yang telah ditetapkan oleh aturan yang ada, baik hukum negara atau hukum organisasi, pasti akan ada konsekuensi berupa sanksi. Tidak bisa kita selalu mengatakan bahwa status kita tidak boleh dihukum karena azas kebebasan berpendapat tadi.

Jadi, ingat saja bahwa ada hukum, dalam hal ini UU ITE (INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK) yang akan membatasi apa yang bisa ditulis dalam status atau komentar kita. Tambahkan dengan norma dan etika yang berlaku.

2. Apakah status kita menyakiti orang ?


Kata lebih tajam dari pena. Begitu kata pepatah.

Sesederhana itu.

Kata-kata dalam status kita sering tidak disadari dibuat akibat luapan emosi karena tingkah laku seseorang. Dan, hasilnya tidak jarang kata-kata kasar dan tidak pantas tercurahkan.

Hasilnya, kata-kata itu menembus dunia maya dan sangat mungkin akan menyakiti orang yang membacanya, baik yang dituju atau tidak.

Apakah memang menyakiti orang lain itu sesuatu yang ditargetkan oleh pembuat media sosial? Tidak juga. Mark Zuckerberg membangun Facebook untuk jaringan pertemanan dan bukan untuk menyakiti orang lain.

Jadi, sebelum menekan tombol, ingat, apa kemungkinan hasil dari kata-kata yang kita ketikkan. Apakah berpotensi menyakiti orang lain (atau diri sendiri dan keluarga)? Kalau ya, sebaiknya dibatalkan.

3. Apakah status dan komentar kita membuka privasi kita ?

Setiap orang butuh privasi. Dan, privasi bisa diartikan sebagai "sebuah wilayah pribadiyang orang lain tidak boleh memasukinya".

Masalahnya, dengan mengupdate status, kita secara tidak langsung memberitahukan kepada publik, di ruang umum, tentang diri dan keluarga kita.. Hal itu sama saja mempersilkan orang lain untuk memasuki wilayah yang seharusnya ruang pribadi kita.

Contohnya, misal, kita suka makan jengkol, dna kemudian dengan bangganya memamerkan betapa bahagia dan bangganya kita makan jengkol di Facebook. Lalu, kemudian para netizen membully karena jengkol itu bau dan kampungan.

Kita marah karena merasa itu adalah hak dan privasi kita dan tidak boleh dicampuri orang lain.

Dalam hal ini, yang salah ya kita. Kalau memang tidak mau ruang privasi kita dimasuki orang lain, jangan undang orang lain untuk masuk. Mengupdate status sama saja memberikan undangan kepada orang lain untuk ikut serta dan akan terlihat bodoh kalau kita kemudian mempermasalahkannya.

Perhatikan masalah yang ini karena banyak sekali status yang sebenarnya membuka ruang privasi kita kepada orang lain.

Siapkah kita menerima hal itu?

4) Ada gunanya NGGAK ?

Kata orang bijak, lakukan sesuatu yang berguna. Kalau tidak berguna, lebih baik DIAM.

Nah, memang banyak yang memberi alasan, ya berguna dong karena bisa merasa lega karena EGO terpuaskan.

Yup tidak salah.

Tetapi, pepatah orang bijak itu ditujukan bukan pada berguna atau tidaknya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Jadi, alasan sudah berguna bagi diri sendiri, berupa pemuasan ego, tidaklah seratus persen tepat.

Apakah status kita berguna bagi orang lain?

Belakangan banyak orang gemar memamerkan kalau dia membeli barang mewah dan makan di restoran mewah, untuk meningkatkan statusnya di mata masyarakat. Tetapi, sering tidak disadari banyak orang yang terkoneksi di media sosialnya untuk makan saja masih susah, bayaran anak masih tertunggak.

Alasan, bisa dicari, yaitu yang sekarang menjadi kebiasaan, untuk "MENGINSPIRASI" menggantikan kata pamer. Padahal, yang ada adalah kemungkinan timbulnya rasa IRI dan "SEDIH" atau "RENDAH DIRI" dari yang melihat.

Update status itu hak seseorang, tetapi sebaiknya, buatlah status yang berguna, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi kalau bisa untuk orang lain.


Cobalah ingat dan pertimbangkan apakah memang status atau komentar kita bisa memberi manfaat. Pertanyaan apakah ada gunanya diposting, selain untuk memuaskan ego untuk pamer saja.

Tidak mudah menjadi orang yang bijak dalam bermedsos memang. Banyak godaan dan tantangannya.

Hanya, setidaknya kalau kita ingat hal-hal kecil ini, kita sudah melangkah satu tahap lagi ke arah menjadi manusia yang bijak dalam bermedsos.

Itu saja.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel