Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Laman Media Sosial Bisa Menjadikan Orang Lebih Baik Atau Lebih Buruk

Laman Media Sosial Bisa Menjadikan Orang Lebih Baik Atau Lebih Buruk

Seorang rapper asal Amerika Serikat, Richard Williams, atau yang dikenal dengan nama panggung Prince EA pernah mengatakan :

"We are all influencers, one question for all of us : when people come to our page, do they walk away better or worse..." ~ Prince EA
Terjemahannya :

"Kita semua adalah influencer, yang menjadi pertanyaan bagi kita semua adalah : ketika orang-orang datang ke laman kita, apakah mereka pergi sebagai orang yang lebih baik atau lebih buruk..." ~ Prince EA
Sebuah pernyataan yang sangat mungkin dianggap angin lalu di tengah masyarakat yang keranjingan media sosial, seperti di Indonesia. Mayoritas sering memandang Facebook, Twitter, Instagram, hanyalah sebuah alat mainan yang tidak akan memberikan dampak serius bagi kehidupan. "Toh hanya di dunia maya" , begitulah pikir mereka.

Hanya saja, kenyataannya, dunia maya adalah bagian yang tidak terlepas dari kehidupan manusia di zaman digital seperti sekarang. Dunia yang satu ini tidak bedanya dan bisa dipisahkan dari dunia nyata. Bukti menunjukkan bahwa dunia maya dengan medsosnya bisa memberikan dampak bagi kehidupan seseorang atau banyak orang.

Oleh karena itu, pernyataan dari Prince EA sendiri tidak bisa dipandang remeh dan diacuhkan. Justru, sebelum bermedsos ria, seseorang harus menyadari potensi dampak yang akan dihasilkan oleh tindakan atau kata-kata yang akan dilakukan atau dikeluarkannya di dunia maya.

Tidak bisa dia hanya berpikir bahwa hal itu adalah hak pribadinya sehingga dengan bebas mengatakan atau mengedarkan sesuatu seenaknya. Ia harus juga mencoba berpikir pengaruh apa yang akan diberikannya kepada orang lain, selain dirinya sendiri.

Karena sebuah kenyataan dan fakta, bahwa seorang manusia adalah influencer, atau orang yang mempengaruhi orang lain. Bukan hanya nama terkenal saja yang bisa melakukannya, bahkan seorang pengemis, gelandangan, atau siapapun pada dasarnya bisa mempengaruhi orang lain.

Coba deh sendiri kalau tidak percaya, ketika seorang pengemis berada di pinggir jalan, ia pasti akan menimbulkan iba pada satu dua orang.

Sebaah kodrat yang dimiliki manusia sejak lahir bahwa ia adalah seorang influencer. Bedanya dengan influencer zaman sekarang hanyalah pada jumlah orang yang bisa dipengaruhi. Orang biasa hanya bisa mempengaruhi orang-orang yang dekat dengannya, teman, keluarga, atau saudara. Sementara, influencer menurut istilah masa kini, seperti Awkarin atau Atta Halilintar bisa menjangkau ribuan bahkan jutaan orang.

Itu saja. Tetapi, hal itu tidak meruah fakta bahwa sebenarnya setiap manusia adalah influencer pada dasarnya.

Nah, dari sanalah, pemikiran Prince Ea berdasar.

Ketika kita memiliki laman Facebook, akan banyak orang yang datang berkunjung untuk membaca dan melihat isinya. Entah itu orang yang kita kenal atau tidak. Kemudian mereka pergi dan berkelana lagi menuju laman-laman berikut.

Pada saat mereka meninggalkan laman medsos kita, pasti akan ada yang "dipungut" dan "disimpan" dalam pikiran mereka. Entah itu berupa sesuatu yang terekam secara visual atau kata-kata yang mengena di hatinya.

Masalahnya terletak disana.

1. Kalau yang kita tulis buruk, maka hal itu sama seperti mengajak mereka, si pembaca untuk berbuat buruk juga

2. Kalau yang kita tulis baik, maka hal itu adalah ajakan untuk ke arah kebaikan.

Misalkan, kebetulan kita sedang bete dengan pacar yang minta dibelikan hadiah pada hari ultahnya, sedangkan kita sedang tidak punya uang. Lalu, kita menulis di status "Dasar cewek, matere banget. Belum jadi istri saja sudah minta macem-macem".

Apa yang terjadi, sangat mungkin banyak orang yang kemudian akan terpengaruh dan kemudian akan berusaha mencegah pacar mereka melakukan hal yang sama. Tidak sedikit yang akan memandang kalau semua perempuan memang seperti itu. Bukan tidak mungkin ada yang kemudian memilih tidak mempunyai pasangan karena tidak mau dibuat repot oleh pasangannya.

Buruk, ya buruk.

Berbeda kalau kita menuliskan agar memperlakukan paangannya, wanita atau pria sebaik mungkin. Pembaca akan seperti diajak untuk berusaha terus menghargai pasangannya dan kemudian membahagiakannya.

Pembaca akan seperi dipengaruhi untuk berbuat baik.

Pernyataan Prince EA sangat mengena sekali. Pernyataan itu seperti pengingat bahwa kita harus berhati-hati terhadap apapun yang kita tulis di media sosial, jenis apapun. Hal itu karena pada dasarnya kita adalah influencer dan kita bisa memberikan pengaruh kepada orang lain dengan tulisan atau apapun yang kita sebar melalui FB atai Insta atau Twitter.

Jadi, bijak bijak lah bermedsos. Jangan lupakan bahwa Anda adalah bagian dari kalangan yang disebut sebagai influencer. Anda bisa menjadi penentu baik atau buruknya seseorang.
Anton Ardyanto
Anton Ardyanto Seorang blogger, bukan yang profesional, yang sangat suka menulis