Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cap Go Meh Bukan Lagi Sekedar Tradisi Warga Tionghoa Saja

Cap Go Meh Bukan Lagi Sekedar Tradisi Warga Tionghoa Saja

Cap Go Meh adalah sebuah tradisi dari etnis Tionghoa yang menandai penutupan berbagai ritual atau tradisi menyambut tahun baru Imlek. Biasanya ditandai dengan banyak hal, mulai dari berdoa di kelenteng sampai dengan kehadiran tarian Liong dan Barongsay.

Ciri khas dari kebudayaan Cina atau Tionghoa sebutannya sekarang. Jadi, tidak akan heran kalau kata ini terdengar, maka yang terbayang adalah kehadiran lampion berwarna merah dimana-mana dan orang Tionghoa yang merayakannya.

Meskipun demikian, mungkin ada baiknya, image tersebut dihapuskan dari benak. Perayaan Cap Go Meh yang diselenggarakan di berbagai kota pada masa sekarang tidak lagi sekedar hanya untuk etnis Tionghoa saja.

Tetapi, untuk semua orang.

Salah satu perayaan Cap Go Meh yang menunjukkan hal itu ada di Kota Bogor yang diadakan sejak tahun 2008-an dan mengambil tempat di kawasan Pecinan Kota Hujan, Jalan Suryakencana.

Sangat jauh berbeda dengan yang dibayangkan dari sebuah Cap Go Meh.

Perhelatan ajang yang dikenal sebagai CGM Bogor Street Festival ini justru menunjukkan bahwa masyarakat Bogor sudah mengadopsi Cap Go Meh sebagai bagian dari dirinya, kotanya, masyarakatnya.

Ajang ini bukan hanya menampilkan berbagai tradisi dan atraksi ala masyarakat Tionghoa saja, tetapi justru menjadi ajang tampilnya berbagai budaya lainnya dalam bentuk atraksi dan pawai jalanan.

Bukan hanya liong dan barongsay saja yang menari di sepanjang jalan, tetapi juga kesenian dari Papua, Sumatera Barat, Ciamis, Karawang, Ponorogo, Bali, dan masih banyak lagi seni budaya dari berbagai wilayah Indonesia.





Bukan cuma peserta pawainya yang beragam, tetapi juga penontonnya. Bukan hanya warga Tionghoa yang menyaksikan, tetapi puluhan ribu orang dari Bogor dan sekitarnya pun hadir. Mereka tidak segan terkadang harus menontong di bawah hujan dan sering harus menanti berjam-jam.

Semua tidak sabar menanti dan mengikuti acara. Mereka merasa ingin menyaksikan parade budaya yang baru berakhir pada tengah malam.

Sesuatu yang menunjukkan bahwa Cap Go Meh bukan lagi sekedar milik warga Tionghoa saja. Cap Go Meh, setidaknya di beberapa kota, termasuk Bogor, sudah menjadi milik semua, milik Indonesia. Bukan lagi sekedar tradisi etnis tertentu saja.

Sebuah hal yang sangat menggembirakan karena batas pemisah berdasarkan etnis menjadi lebur dan menghilang. Semuanya bergembira bersama tanpa ada sekat-sekat pemisah.

Bagaimana Cap Go Meh di tempat Anda? Samakah dengan di Bogor?

Anton Ardyanto
Anton Ardyanto Seorang blogger, bukan yang profesional, yang sangat suka menulis

Posting Komentar untuk "Cap Go Meh Bukan Lagi Sekedar Tradisi Warga Tionghoa Saja"