Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mana Yang Lebih Ramah lingkungan, Tas Blacu Atau Tas Kain ?

Mana Yang Lebih Ramah lingkungan, Tas Blacu Atau Tas Kain ?
Sumber Foto  www.blacuk.com

Tas blacu dan tas kain adalah dua jenis benda yang belakangan ini menjadi semakin populer dalam masyarakat, terutama sejak bergulirnya peraturan pelarangan penggunaan kantong plastik sekali pakai di berbagai kota. Masyarakat dan juga pemerintah memandangnya sebagai salah satu solusi untuk menggantikan peran kantong kresek dalam kehidupan.

Tidak heran kalau di berbagai daerah dan juga di dunia maya, penawaran tas yang terbuat dari kedua bahan tersebut semakin banyak, seiring dengan meningkatnya permintaan dan kesadaran masyarakat yang meningkat terhadap bahaya dari plastik.

Banyak anggota masyarakat yang menganggapnya "sama".

Mungkin karena karena dalam kehidupan sehari-hari, blacu juga disebut dengan "kain blacu" sehingga keduanya dianggap sama.

Padahal, tidak demikian adanya. Tas blacu dan tas kain punya perbedaan lumayan signifikan kalau dilihat dari sisi ramah lingkungannya.

Dari keduanya, tas blacu bisa dianggap lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan tas kain biasa.

Memang, kalau secara penampilan, tas blacu dianggap lebih tidak menarik karena biasanya warnanya sangat monoton, putih menjurus kuning. Warna biasanya berasal dari motif sablon saja. Berbeda dengan tas kain yang lebih menarik karena berwarna-warni, cerah ceria.

Nah, justru, warna itulah yang menunjukkan perbedaan dari keduanya. Walaupun bahan dasar pembuatnya bisa saja sama karena baik tas blacu dan tas kain biasanya sama-sama terbuat dari benang/serat katun.

Tetapi ..proses produksi keduanya berbeda.

Blacu adalah kain setengah jadi. Proses produksinya berhenti setelah melalui proses bleaching. Warna kekuningan memang merupakan ciri kain yang sudah selesai melewati proses ini.

Sedangkan tas kain, yang sudah berwarna meski hanya putih saja, harus melalui proses tambahan lainnya, yaitu dyeing. Untuk warna putih, maka akan ditambahkan pemutih (optical brightener) dan kalau warna, berarti harus melalui proses dyeing (pewarnaan).

Kain yang 100% jadi membutuhkan lebih banyak listrik, air, untuk memproduksinya. Belum ditambah dengan zat warna yang merupakan bahan kimia, serta limbah yang dihasilkan dalam proses produksinya.

Dampak yang diberikan tas kain terhadap lingkungan lebih besar saat proses produksinya dibandingkan tas blacu. Lingkungan berkorban lebih banyak untuk menghasilkan tas kain, daripada tas blacu.

Padahal, keduanya menjalankan fungsi yang sama, yaitu sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai. Terlebih, penambahan warna sebenarnya tidak memberikan tambahan fungsi bagi tas, kecuali untuk menarik perhatian saja.

Memang, tas kain akan tetap lebih baik dibandingkan kantong kresek yang sudah sulit terurai secara alami juga tidak tahan lama. Tetapi, jika memang berniat hendak menjadi ramah lingkungan, tas blacu merupakan pilihan yang lebih baik lagi.

Itulah beda tas blacu dan tas kain, dimana yang pertama lebih baik dalam urusan ramah lingkungan dibandingkan yang terakhir.