Membuang Sampah Sendiri Saja Tidak Mau, Bagaimana Mau Ramah Lingkungan? - Umum Sekali

Selasa, 11 Februari 2020

Membuang Sampah Sendiri Saja Tidak Mau, Bagaimana Mau Ramah Lingkungan?

Membuang Sampah Sendiri Saja Tidak Mau, Bagaimana Mau Ramah Lingkungan?

Keseringan berkunjung ke minimarket rupanya membawa hikmah juga. Setidaknya memperlihatkan bahwa perjuangan untuk menuju masyarakat Indonesia yang ramah lingkungan, sepertinya akan butuh perjalanan yang sangat panjang dan lama.

Hal itu terlihat dari apa yang biasa saya temukan di sebuah gerai minimarket, Circle K, yang berada di bilangan Jalan Wahid Hasyim. Tepatnya, outlet yang berada tepat di pojok pertigaan yang mengarah ke stasiun Gondangdia.

Cukup sering saya harus mampir kesana saat menuju kantor. Biasanya, sambil mencoba mengurangi pegalnya betis karena harus berdiri selama hampir satu setengah jam di atas Commuter Line. Seperti gerai yang lain, minimarket yang satu ini menyediakan tempat bagi pembeli untuk nongkrong sejenak.

Dan, disanalah setiap hari, pemandangan yang sama dan menyebalkan selalu ada. Di atas meja, selalu ada tergeletak sampah yang ditinggalkan para pembeli terdahulu. Rupanya para tamu enggan merepotkan diri untuk sekedar menceploskan, entah kaleng, atau kemasan minuman, atau plastik makanan ke dalam tong sampah yang hanya berjarak 2-3 meter dari meja saja.

Mungkin, pikiran mereka, toh ada staf minimarket yang bertugas untuk membersihkan meja. Dan, memang begitu adanya. Selalu ada pegawai yang kemudian datang membawa lap dan mengambil benda tak terpakai di atas meja kosong.

Membuang Sampah Sendiri Saja Tidak Mau, Bagaimana Mau Ramah Lingkungan?
Kaleng minuman yang ditinggalkan pengunjung 

Sebuah hal yang "biasa" bagi masyarakat Indonesia. Tetapi, justru disanalah terlihat sebuah mentalitas tidak ramah lingkungan.

Bagaimana bisa ramah lingkungan, kalau membuang sampah sendiri saja tidak mau dan harus menunggu orang lain melakukan untuk dirinya?

Pemikiran bahwa "Toh, gua bayar" dan "Itu bukan tugas gue" terlihat masih kental dalam benak banyak orang, bahkan di Jakarta yang katanya modern dan berpendidikan. Banyak orang merasa bahwa dirinya terlalu penting untuk melakukan hal seperti itu.

Padahal, tindakan yang harus dilakukan sangat sederhana dan tidak berat. Membawa sampah yang mereka buat ke tempat sampah yang berada sangat dekat dengan mereka. Hal yang bisa dilakukan saat beranjak pergi. Tidak makan waktu.

Prinsip tidak mau repot seperti inilah yang membuat banyak tempat di Indonesia, seberapapun indahnya sering terkotori oleh sampah. Ketidakmauan untuk melakukan hal yang seharusnya dilakukan.

Bagaimanapun, minimarket bukanlah restoran dimana semua harus dilayani.

Nah, jika mengurus sampah dirinya sendiri saja tidak mau, dan harus menunggu orang lain melakukannya, bagaimana mereka mau berpartisipasi dalam kegiatan ramah lingkungan lainnya, seperti kerja bakti?

Ketidakpedulian inilah yang mencerminkan bahwa akan butuh waktu yang teramat sangat panjang untuk menjadi Indonesia yang lebih ramah lingkungan. Butuh perjuangan ekstra keras.

Semua itu bisa diprediksi mengingat banyak anggota masyarakatnya yang tidak peduli dan tidak mau peduli terhadap sampah yang sebenarnya mereka hasilkan sendiri.

Ngenes kan ? Atau, menyebalkan?

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda


Silakan berkomentar yang sopan dan jangan meninggalkan link aktif karena akan langsung dikategorikan sebagai spam. Karena keterbatasan waktu, kami tidak selalu bisa membalas komentar. Mohon maklum

Mohon maaf kalau terkadang admin tidak memberi balasan karena terkadang ada komentar yang dirasa hanya pernyataan dan tidak perlu direspon