Mengapa Foto Barang di Toko Online Sering Lebih Bagus Daripada Aslinya ?

Mengapa Foto Barang di Toko Online Sering Lebih Bagus Daripada Aslinya ?


Jual beli online merupakan sebuah hal yang umum di era digital seperti sekarang. Seseorang yang hendak membeli sebuah produk cukup membuka aplikasi di gawai miliknya, melihat foto, memilih, melakukan pembayaran, dan tinggal menunggu pesanan tiba.

Saat menerima barang yang dipesan itulah kerap pembeli merasa kecewa. Biasanya karena barang yang tiba "sepertinya" tidak sesuai dengan apa yang dilihat di layar komputer atau ponsel mereka. Pemesan merasa bahwa sudah terjadi penipuan karena foto barang di toko online terlihat lebih bagus daripada barang yang mereka terima.

Situasi yang seperti ini memang sering terjadi dan akan semakin sering dirasakan oleh para pengguna jasa online shop atau toko online, kalau mereka tidak menyadari satu hal.

"Foto produk di toko daring memang diatur agar menarik perhatian calon pembeli."
Foto-foto itu dibuat dalam kondisi ideal yang diatur agar menonjolkan sisi "emnarik" dari sebuah produk. Pencahayaan ditambahkan untuk memperkuat kesan. Latar belakang foto diambil yang bisa menonjolkan warna. Sudut pengambilan foto diambil lagi-lagi untuk memberikan kesan kepada yang melihat.

Tidak jarang sebuah online shop besar akan menyewa jasa fotografer pro untuk membuat foto produk supaya terlihat menarik.

Kalau perlu tulisan, maka tulisannya pun akan diarahkan agar memancing minat calon pembeli.

Semua sudah diatur untuk menjadikannya produk yang ideal.

Sesuatu yang normal saja karena dalam kehidupan sehari-hari pun hal itu sudah ditemukan. Contohnya, di pusat perbelanjaan, produknya akan dipasang di etalase dan ditata agar memikat pengunjung yang datang. Sadarkah bahwa lampu di sebuah toko biasanya berbeda dengan lampu yang ada di rumah.

Nah, begitu produk dibeli dan tiba di rumah, kondisi ideal itu tidak ada. Jenis lampu berbeda, sudut penglihatan juga tidak sama. Belum lagi rumah yang tidak rapi akan memberikan kesan yang berbeda dibandingkan mall yang tertata dan rapi.

Semua itu akan menghasilkan "kesan" yang berbeda dalam diri yang melihat.

Pada dasarnya, perbedaan itu juga terjadi saat membeli produk dari toko online. Apalagi, barang yang ditawarkan tidak bisa dilihat secara langsung dan hanya fotonya saja. Banyak detail yang tidak bisa disampaikan oleh sebuah foto.

Dan, hal itu baru akan terlihat jelas dan secara rinci saat barang sudah berada di tangan.

Perbedaan kondisi dan situasi seperti itulah yang kerap menimbulkan prasangka. Ketidakpahaman terhadap hal ini rentan untuk menimbulkan kesan kurang baik. Padahal, sebenarnya sesuatu yang wajar dan umum saja.

Penjual akan selalu berusaha membuat produknya terlihat menarik dan terbaik.

Tentu tidak menafikan adanya penjual yang melanggar etika, seperti mengedit foto berlebihan, kemudian tidak menyebutkan adanya cacat dan kekurangan pada produknya. Tetapi, mayoritas penjual di tokol biasanya cukup jujur dan masih dalam taraf wajar.

Perbedaan antara foto barang di toko online dan barang aslinya sebenarnya normal saja. Bukan sesuatu yang aneh mengingat calon pembeli hanya bisa memandang dari layar gadget saja, bukan barang riilnya. Yang beli langsung di pasar saja masih banyak yang bisa merasa demikian, apalagi yang membeli melalui toko online.

Untuk menghindari hadirnya prasangka buruk seperti ini, ada baiknya saat membeli sebuah produk lewat internet, turunkan ekspektasi Anda. Janganlah berharap bahwa barang yang diterima akan 100% sama seperti dalam foto.

Turunkan menjadi 70% saja (kira-kira) agar ketika barang kurang sesuai dengan harapan Anda tidak ada kekecewaan yang berlebihan.

Kalaupun mau, sebenarnya kalau belum puas dengan foto yang dipajang, calon pembeli bisa coba meminta foto lain lewat japri (jalur pribadi) agar gambaran tentang produk yang akan dibeli bisa lebih jelas, walau kemungkinan perbedaan pandang akan tetap ada.

Yang pasti, bila memang ingin berbelanja online, tingkat kehati-hatian dan ketelitian harus ditingkatkan lagi. Cek foto berulangkali dan kalau perlu pahami juga teknih fotografi agar bisa mengira-ngira wujud barang yang akan dibeli sebenarnya, walau tetap bukan sebuah kepastian.

Yang penting, tidak perlu berprasangka buruk. Bisa jadi hal itu terjadi karena ketidakpahaman tentang pembuatan foto produk saja.

Berlangganan via Email