Jogo Tonggo : Tidak Perlu Jauh-Jauh Untuk Wujudkan Sharing is Caring, Berbagi Tanda Peduli

Sharing Is Caring , Berbagi Tanda Peduli

Sharing is caring. Berbagi tanda peduli. Sebuah slogan yang banyak dikumandangkan oleh berbagai pihak dalam masa pandemi Corona merupakan sebuah ajakan kepada masyarakat untuk mau peduli berbagi kepada mereka yang terkena imbas dari ganasnya virus Corona.

Hal tersebut sejauh ini berhasil dalam mendorong banyak orang dalam berbagai bentuk. Bukti itu bisa dilihat, bahkan tanpa gembar gembor dilakukan banyak orang, seperti berbagi paket sembako kepada para ojol (ojeg online) yang penghasilannya bisa dikata rontok akibat pelarangan mengangkut penumpang. Berbagi makanan juga dilakukan banyak keluarga di berbagai kota.

Dompet donasi dibuka dimana-mana untuk membantu pembelian APD (Alat Pelindung Diri) bagi para tenaga kesehatan yang harus berjibaku di garda depan merawat para penderita Covvid-19.

Berbagai pintu sudah dibuka oleh banyak pihak bagi mereka yang tergerak hatinya untuk berbagi rejeki kepada mereka yang kesusahan.

Tapi, ada satu program, yang kalau menurut hasil mengikuti Twitter, dicetuskan oleh Ganjar Pranowo, gubernur Jateng , yaitu Jogo Tonggo atau Jaga Tetangga yang sangat menarik untuk diperhatikan dan tentunya untuk diwujudkan.

Kenapa?

Terkadang karena memang tetangga sering luput dari perhatian kita.

Seringkali kita menganggap semua tetangga yang tinggal di lingkungan yang sama akan memiliki kemampuan yang sama dengan diri kita. Oleh karena itu, acapkali, kita lalai memperhatikan mereka.

Tidak jarang juga, namanya juga manusia, kita tersentuh oleh berita-berita miris dari media berita atau media sosial. Hal ini mendorong kita langsung bergerak cepat dan mengirimkan donasi ke orang yang disebutkan dalam berita.

Hal ini kerap membuat kita luput untuk peduli pada mereka-mereka yang tinggal dekat dengan kita.

Kita memperhatikan orang lain, tetapi kita lupa pada "saudara terdekat" kita sendiri, tetangga.

Bagaimanapun, dalam sebuah lingkungan yang sama, kemampuan perekonomian  setiap keluarga berbeda. Ada yang kaya, ada yang berkecukupan, dan ada yang kekurangan.

Tetap akan ada mereka yang nasibnya sama dengan para pengemudi ojeg online. Mereka juga kehilangan pekerjaan, tidak punya lagi mata pencaharian, bingung harus mencari makan darimana. Wabah Corona menimpa setiap lapisan masyarakat dan orang-orang yang kesusahan semakin banyak jumlahnya.

Termasuk diantaranya, mungkin tetangga kita sendiri.

Memang, tidak salah sama sekali dan merupakan pilihan pribadi untuk menyalurkan bantuan lewat jalur manapun. Itu adalah hak masing-masing dan tetap diharapkan.

Cuma, rasanya pasti tidak enak. Disaat kita membantu orang lain yang tak dikenal, mereka yang tinggal di dekat kita sendiri tidak bisa kita tolong.

Jogo Tonggo, atau Jaga Tetangga sendiri sebuah konsep yang memberitahukan bahwa untuk peduli itu tidak perlu harus jauh-jauh. Cukup dengan memperhatikan lingungan sendiri saja. Jika ada tetangga yang mengalami kesulitan, tentunya kita bisa urun serta bersama dengan warga lain urunan untuk membantu.

Dengan begitu, mereka yang kesulitan bisa terbantu untuk bertahan dalam masa sulit ini.

Dan, jika semua orang mau memperhatikan tetangga di lingkungannya sendiri, maka hampir bisa dipastikan tidak ada lagi kasus seperti video yang viral belakangan ini. Dua orang anak yang dikunjungi oleh petugas bertanya, "Bapak bawa nasi?" (Lihat video di bawah yang diambil dari Twitter)



Sebuah hal yang mengenaskan.

Pemerintah memang bertanggungjawab dalam hal ini untuk memastikan rakyatnya tidak kelaparan seperti ini. Tetapi, sebuah pertanyaan besar menggantung untuk warga di sekitar rumah kedua anak itu tadi.

Bagaimana bisa mereka membiarkan dua anak berada dalam kondisi mengenaskan seperti itu? Tidak kah mereka peduli dan menjenguk keduanya? Mengapa mereka tidak melaporkan kondisi keduanya kepada pemerintah agar bisa diberikan bantuan?

Kemana para tetangganya?

Dimana kepedulian terhadap tetangga yang notabene merupakan saudara terdekat? Bahkan untuk menjenguk dan melihat kondisi sesama warga saja tidak dilakukan?

Memang, membantu tetangga tidak akan masuk berita. Tidak akan membuat seseorang menjadi viral di medsos. Tetapi, kalau memang kita berniat untuk membantu orang yang sedang kesusahan, tentunya tidak seharusnya keinginan agar sumbangan kita diketahui orang lain hadir di dalam hati.

Jaga tetangga yang ada di sekitar kita. Jangan sampai mereka tidak mampu bertahan karena kita luput mempedulikan mereka.

Karena sebenarnya itulah inti dari gotong royong yang pernah menjadi budaya dari masyarakat Indonesia (dan mudah-mudahan masih). Dan, pastinya merupakan sebuah wujud dari slogan yang sering dikumandangkan, "Sharing is caring".

Tidak ada komentar untuk "Jogo Tonggo : Tidak Perlu Jauh-Jauh Untuk Wujudkan Sharing is Caring, Berbagi Tanda Peduli"

Berlangganan via Email