Sulit Berpikir Positif Di Tengah Pandemi Corona ? Mungkin Ini Sebabnya

Wabah Covid-19 atau Coronavirus memasuki bulan ke-5 sejak pertama kali terjadi di Wuhan. Di Indonesia sendiri meski gonjang ganjing terkait penyakit yang sekarang menjadi pandemi ini sudah dimulai lebih awal, heboh yang disebabkannya memasuki bulan kedua.

Kecemasan masyarakat terhadap penyebaran penyakit yang virusnya mirip dengan SARS dan MERS ini semakin hari semakin besar melihat data korban yang terus meningkat.

Situasi yang semakin lama akan semakin membuat orang sulit untuk berpikir positif. Padahal, hal itu justru menghadirkan ancaman tersendiri karena menurut Menteri Kesehatan RI, dr Terawan Agus Putranto, berpikir hal-hal yang negatif sendiri bisa menurunkan daya imun tubuh (sumber : Kompas Tips Menkes Cegah Virus Corona Berpikiran Positif dan Jaga Imunitas).

Terlihat sederhana dan mudah, tetapi konsisten berpikir positif dalam situasi saat pandemi Corona ini sangat sulit dilakukan.

Sama sekali tidak mudah.

Kesulitan untuk membuang pikiran negatif dari kepala, susah sekali dilakukan karena wabah Corona bukan hanya menimbulkan masalah kesehatan, tetapi juga berimbas pada sisi-sisi lain dalam kehidupan manusia.

Banyak sekali kemungkinan penyebab banyak orang mengalami kesulitan untuk bisa membuang pikiran jelek dari pikirannya, sebagian diantaranya ada di bawah ini :

Sulit Berpikir Positif Di Tengah Pandemi Corona, Mungkin Ini Sebabnya
Ilustrasu


1. Takut Tertular

Sakit itu tidak enak. Siapapun tidak menginginkan untuk jatuh sakit.

Mau tidak mau, setiap orang di masa seperti ini akan meningkatkan kewaspadaan. Mereka tidak segan memandang orang lain, yang bahkan tidak dikenalnya sekalipun, sebagai orang yang mungkin bisa menularkan penyakit kepadanya.

Dalam kekhawatiran akan terkena penularan penyakit berbahaya ini, tentunya sulit sekali untuk tetap bisa berpikir tenang dan positif.

Setiap orang akan cenderung memproteksi diri sendiri dan keluarganya terlebih dahulu.

Hal itu bisa terlihat dari tindakan-tindakan memborong masker atau alat kesehatan lainnya. Manusia menjadi egois dan tidak lagi memikirkan orang lain. Fokus utama tertuju pada "menyelamatkan" dirinya dan keluarganya saja.

Sebuah bentuk dari pikiran negatif dalam kehidupan manusia.

Tips :

  • Patuhi anjuran pemerintah untuk #dirumahsaja atau social/physical distancing (jaga jarak)
  • Jaga kebersihan dengan mencuci tangan

 

 2. "Termakan" Berita

Tahu topik apa yang paling dicari di masa pandemi Covid-19 ini ? Yak, betul sekali, segala sesuatu yang berkaitan dengan kata Corona dan Covid-19 mendominasi.

Setiap hari, setiap jam, setiap detik, berita di media massa, baik cetak maupun online, atau televisi dipenuhi dengan berbagai berita mengenai wabah ini.

Isinya, sayangnya, sulit mendukung pikiran positif untuk bisa muncul. Berita tentang kematian akibat terkena virus itu mendominasi mayoritas ruang "berita" dimana-mana. Sulit untuk tidak merasa suram membaca bagaimana korban wabah bergeletakan di rumah sakit dan di jalan (seperti di Ekuador).

Tidak bisa tidak tekanan di hati semakin berat membaca kehidupan yang semakin sulit karena rusaknya perekonomian.

Mau tidak mau, hampir setiap orang disuguhi berita-berita menyedihkan seperti ini, dan pada akhirnya terseret masuk dalam lingkungan yang terasa suram.

Sesuatu yang pada akhirnya menyulitkan siapapun untuk berpikir tenang. Jangankan untuk berpikir positif, berpikir tenang tanpa kegalauan saja menjadi salah satu tantangan besar bagi umat manusia di masa Covid-19 mewabah.

Tips :

- Tidak ada yang pasti, tetapi mengurangi membaca berita-berita terkait Covid-19 akan mengurangi efek "termakan"  berita seperti ini. Matikan televisi, atau alihkan pada channel yang menyiarkan film akan bisa mengurangi pengaruh berita-berita buruk.

- Coba untuk mengerjakan "sesuatu", seperti membersihkan rumah untuk yang WFH (Work From Home) atau apapun bisa menjadi pilihan yang lebih baik dibandingkan terus menerus mendengarkan berita tentang Corona


3. Pengaruh Media Sosial


Media sosial, seperti Facebook atau Twitter memperlihatkan bahwa mereka punya dua sisi. Sisi yang baik menyebarkan informasi, tetapi sisi buruknya, banyak beredar rumor atau gosip yang kadang menakutkan untuk di dengar.

Berita bagaimana mayat korban Corona diangkut truk di Italia sudah pasti menambahkan rasa takut dan cemas dalam hati yang sudah tidak tenang.

Belum lagi berbagai hoaks tentang cara penanganan yang menimbulkan kebingungan tersendiri. Perdebatan antar pengguna juga menghadirkan ketidaknyamanan tersendiri kalau dibaca.

Masih tidak cukup, foto-foto tentang kondisi korban Corona, keluhan-keluhan pasien penderita, dan kerap dibumbui oleh para influencer terkadang justru membuat kepala tambah pening dan jantung berdebar lebih cepat.

Situasi menjadi terasa semakin mencekam akibat aktivitas di dunia media sosial yang bahkan lebih riuh membahas tentang wabah ini.

Tantangan tersendiri bagi siapapun untuk bisa tetap tenang dan berpikir positif.

Tips :

Matikan Facebook, Twitter, Instagram. Jangan buka.

Cukup dapatkan informasi dari media resmi dan terpercaya daripada membaca semua cuitan di Twitter atau status di Facebook. Lewati saja bahasa tentang Covid-19.

Tidak banyak gunanya karena yang terpenting.

Manfaatkan waktu yang ada untuk melakukan sesuatu yang lebih riil, seperti mencoba membantu kawan-kawan atau tetangga yang kesusahan akan lebih berguna dibandingkan membaca postingan di media sosial.


4. Takut Kehilangan Pekerjaan


Berapa jumlah perusahaan yang bisnisnya hancur ? Tidak terhitung, tetapi yang pasti, semakin lama krisis Covid-19 berlangsung, semakin rusak perekonomian dimanapun.

Apalagi, krisis kali ini terjadi di seluruh penjuru dunia, dan bukan hanya di Indonesia.

Semua negara menghadapi masalah yang pada dasarnya sama, bisnis yang lesu.

Kondisi yang hampir pasti berujung pada hal yang sangat tidak diharapkan, yaitu PHK, Pemutusan Hubungan Kerja.

Sebuah bisnis yang rusak artinya pendapatan akan turun. Kerugian sudah di depan mata. Dan, pada akhirnya langkah logis yang akan diambil oleh banyak perusahaan adalah dengan memberhentikan para pegawainya.

Mau tidak mau.

Dan, hal itu disadari oleh mereka yang bekerja sebagai karyawan/pegawai atau orang upahan. Kalau penjualan tidak jalan, sama artinya dengan kemungkinan kehilangan pekerjaan semakin besar. Kehilangan pekerjaan berarti hilangnya gaji yang menjadi sumber nafkah bagi keluarga.

Apalagi, kerusakan dunia usaha akibat wabah ini juga memperkecil ketersediaan lowongan pekerjaan di masa datang karena semua sektor bisnis terkena dampak. Pada akhirnya, perusahaan-perusahaan ini tidak akan menyediakan lowongan pekerjaan dalam waktu dekat, bahkan setelah wabah berakhir nantinya.

Kemungkinan di-PHK dan kehilangan pekerjaan adalah sebuah situasi yang menimbulkan tekanan besar. Sesuatu yang pada akhirnya membuat manusia sulit untuk berpikir positif.

Tips :

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang karyawan/buruh/pegawai dalam hal ini. Situasinya sama saja di seluruh penjuru dunia.

Yang bisa dilakukan hanyalah berbuat yang terbaik yang bisa dilakukan. Bila disuruh bekerja di rumah, tetaplah bekerja sebaik mungkin, bagai sedang bekerja di kantor. Jangan pergunakan waktunya untuk hal-hal yang mengganggu produktivitas.

Tetap berjuang untuk memastikan bahwa perusahaan tempat kita bekerja berjalan bahkan dalam situasi yang sangat berat. Usahakan untuk membantu pengurangan biaya agar perusahaan tetap bisa selamat sampai wabah berakhir.

Sulit Berpikir Positif Di Tengah Pandemi Corona  Mungkin Ini Sebabnya

5. Kehilangan Mata Pencaharian

Tidak semua orang memiliki gaji tetap dan bisa bekerja di rumah saat wabah Covid-19 meraja. Pedagang gorengan, pengendara ojeg online, pemilik warung tegal, dan sebagainya, mendapatkan nafkahnya dari usaha yang mereka lakukan.

Uang akan didapat saat mereka bekerja dan kalau tidak, maka nafkah untuk keluarga pun tidak didapat.

Masalahnya, di tengah pandemi yang sedang berlangsung, tidak terhitung bisnis dan usaha yang tumbang. Semakin hari semakin sedikit orang yang mau keluar rumah dan menggunakan jasa ojeg online.

Alhasil, penghasilan bagi kalangan seperti ini secara otomatis ikut terpengaruh. Pengendara ojeg online mengalami kesulitan karena turunnya jumlah penumpang, pengusaha warteg harus menutup usahanya karena pembeli sangat berkurang akibat penerapan Work From Home alias bekerja di rumah.

Dan, kehilangan sumber mata pencaharian utama tidak pernah tidak akan membuat suasana hati dan otak sulit untuk tidak berpikir hal-hal yang buruk. Bagaimanapun, kehidupan keluarga terancam ketika sumber mata pencaharian terputus.

Tips :

Tidak ada tips atau saran yang mujarab untuk mengatasi yang satu ini. Hanya, berpasrah diri kepada Yang Maha Kuasa dan banyak berdoa akan sangat membantu meringankan beban di hati dan pada akhirnya membuat kepala bisa dipakai berpikir jernih lagi.

Tentunya harus tetap dengan berusaha mencari sumber penghasilan alternatif lain untuk menghidupi keluarga.

Ajukan permintaan bantuan kepada pihak yang berwenang mengingat pemerintah menyediakan bantuan bagi rakyat yang perekonomiannya terdampak wabah ini. Minta bantuan dari keluarga yang mampu kalau memang terpaksa.

Buang rasa malu. Lakukan apapun pekerjaan yang bisa mendatangkan pemasukan demi keluarga atau diri sendiri.

6. Perubahan Pola Hidup


Wavah Covid-19 merubah pola hidup banyak manusia.

Jika setiap hari biasa dimulai dengan mempersiapkan diri pergi ke tempat bekerja, setelah penerapan WFH, tidak lagi.

Setelah bangun pagi para pekerja di rumah harus berhadapan dengan realita yang berbeda. Tidak ada lagi keriuhan di transportasi umum, tumpukan arsip dan pekerjaan yang menggunung, target yang harus dicapai.

Yang ditemukan adalah suasana rumah dengan kesehariannya.

Meski sebenarnya mimpi bekerja di rumah dengan tetap mendapatkan penghasilan adalah impian banyak orang, tetapi sadar atau tidak, hal itu akan memerlukan penyesuaian.

Tidak serta merta semua orang bisa dengan nyaman dan menikmati suasana rumah. Banyak yang lebih bisa berkonsentrasi dan produktif saat berada di tempat ideal untuk bekerja, kantor.

Hasilnya, timbul tekanan sendiri karena rasa asing dengan suasana rumah. Terkadang hal itu mendorong rasa tidak nyaman dalam hati, yang pada akhirnya berujung pada hadirnya kekesalan.

Dan, sulit untuk tetap bisa berpikir positif ketika rasa kesal dan tidak nyaman hadir di dalam hati.


Tips :

Coba tetap lakukan pola saat masih harus pergi ke tempat kerja semaksimal mungkin dan fokus pada pekerjaan.

WFH berarti "bekerja di rumah" artinya tetap kita harus melakukan tugas kantoran dan hanya tempatnya di rumah saja. Fokus untuk menyelesaikan apa yang harus dikerjakan sambil perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah dan menemukan pola hidup baru yang lebih nyaman.

7. Keluarga


Keluarga adalah yang paling utama.

Dan, dari sana juga tekanan yang menghambat untuk bisa berpikir positif timbul. Rasa khawatir terhadap keselamatan "keluarga" menjadi pemicu rasa khawatir yang kerap berlebihan.

Apalagi kalau ada anggota keluarga yang tinggal berjauhan, seperti anak yang tinggal di asrama atau kost-kostan, adik atau kakak yang tidak tinggal serumah. Situasinya membuat pikiran tidak tenang dan rasa khawatir terus hadir di dalam hati.

Mampukah anggota keluarga tersebut mandiri dan bertahan dalam situasi seperti sekarang?

Jangan tanya kalau ternyata dalam daftar pasien positif Covid terdapat nama salah satu keluarga. 

Pada akhirnya, pikiran sulit lepas dari rasa cemas dan mendorong orang sulit untuk berpikir positif.

Tips :

Tetap jalin komunikasi dengan semua anggota keluarga memanfaatkan teknologi, seperti dengan video call, conference call, atau telpon untuk terus mengupdate kabar dari sanak keluarga yang berada di luar.

Tentu akan memakan biaya, tetapi akan lebih murah dibandingkan dengan rasa tenang dalam hati ketika mengetahui kondisi dan situasi semua anggota keluarga.

8. Berkurangnya Interaksi Sosial


Manusia adalah makhluk sosial, sebuah pelajaran yang diajarkan sejak masa sekolah dasar. Artinya, manusia tidak bisa hidup sendiri dan akan selalu membutuhkan manusia lain dalam kehidupannya.

Salah satunya adalah dalam bentuk interaksi antar manusia dalam keseharian.

Berbincang dengan kawan, bercanda dengan sanak saudara, bergaul dengan teman di kantor, semua merupakan berbagai bentuk kebutuhan manusia akan interaksi dengan sesamanya.

Ketika semua itu terhenti, dimana manusia harus tinggal di rumah saja dalam waktu beberapa minggu, kebutuhan akan hal yang satu ini tidak terpenuhi. Tentu, tetap ada keluarga, tetapi manusia butuh lebih dari itu untuk membuat kehidupannya tidak monoton dan lebih bervariasi.

Berkurangnya interaksi sosial selama masa #dirumahaja menimbulkan tekanan yang tidak terlihat tetapi ada. Kebutuhan untuk sekedar berbincang santai dan bersenang bersama kawan tidak terpenuhi.

Hasilnya adalah situasi yang kurang menyenangkan. Tidak heran ribuan pasangan di Tiongkok (Cina) mengajukan gugatan perceraian setelah wabah Corona mereda.

Sulit untuk tetap mempertahankan diri bisa tetap berpikir positif ketika interaksi sosial berkurang.

Tips :

Manfaatkan teknologi dunia maya untuk berinteraksi dengan manusia lain, terutama keluarga, saudara, dan teman. Apalagi, teknologi chatting dan jaringan internet dewasa ini sudah sangat bagus.

Memang tidak akan semenyenangkan kalau bertatap muka, tetapi setidaknya hal itu akan memastikan kebutuhan terhadap interaksi dengan orang lain terpenuhi sebagian.

Aktif di grup Whatsapp untuk bertukar canda bisa juga menjadi pilihan lain. Banyak pikiran positif yang lahir, seperti gerakan untuk membantu sesama yang sedang dalam kesulitan ekonomi.



9. Rasa Bosan

Tahu apa yang paling menakutkan bagi seorang blogger atau penulis? Rasa bosan.

Bukan apa-apa karena para blogger tahu ketika rasa bosan itu hadir di dalam hati, secara otomatis, kepala seperti bebal dan otak tidak bisa berpikir. Jangankan untuk menulis, bahkan ide pun seperti tidak mau muncul.

Rasa bosan membuat mesin "pemikir" manusia seperti terhenti.

Nah, bayangkan saja tantangan bagi mereka yang harus #dirumahaja dalam waktu lumayan lama, beberapa minggu.

Berkutat dalam rumah yang seluk beluknya sudah di luar kepala. Bertemu dengan orang yang itu-itu saja (keluarga). Apalagi kalau rumahnya bertipe RSSSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sempit Sekali Selonjor Saja Susah), dimana ruang untuk beraktivitas sangat terbatas.

Rasanya pasti sangat berat karena bosan.

Tambahkan dengan faktor lain, seperti hiburan yang terbatas karena "production house" berhenti memproduksi sinetron atau acara-acara menarik lainnya (mereka juga takut tertular). Jadi, yang ditonton hanyalah tayangan film yang diulang-ulang terus menerus.

Sisipkan juga bawah semua media berita online dan media massa juga dipadati satu topik yang sejenis, Covid-19..

Perasaan bosan pasti akan terus membesar dan membebani hati. Pada akhirnya, jangankan berpikir positif, berpikir biasa saja berat karena kebosanan yang merajalela.

Tips :

Coba lakukan hal-hal sederhana yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya, seperti menyapi, mengepel, membuat hand sanitizer, atau bahkan memasak. Hal itu akan membantu menghabiskan waktu dan mengusir sedikit rasa kebosanan.

Tambahkan juga dengan mengajak keluarga melakukan aktivitas yang berbeda, seperti membuat video untuk dipajang di youtube atau mengurus tanaman.

Jangan lupakan juga, sesuatu yang sebenarnya tidak disukai para orangtua, tetapi disukai anak muda masa kini, bermain game online (pasti banyak temannya) atau membuat video Tik Tok.

Lakukan sesuatu untuk memastikan rasa bosan tidak bercokol di dalam hati dan menghalangi otak untuk bisa berpikir positif.


Sulit Berpikir Positif Di Tengah Pandemi Corona ? Mungkin Ini Sebabnya

Berat. Bahkan, sangat berat kondisi saat pandemi Covid-19 sekarang ini.

Tekanan dan masalah datang bertubi-tubi dari berbagai sisi kehidupan . Wajar kalau banyak orang akan menemukan tembok tebal saat berusaha untuk terus berpikir positif.

Itulah kondisi yang ada saat ini.

Tetapi..

Semua orang harus berupaya tegar, kuat, dan terus berpikiran positif dalam situasi kritis seperti sekarang.

Tanpa pikiran positif, selain imunitas manusia menurut para ahli menurun, manusia tidak akan bisa menemukan solusi dan pemecahan masalah yang ada. Bila pikiran negatif terus dibiarkan menguasai kepala setiap orang, hasilnya adalah sebuah keputusasaan.

Pasrah menanti nasib dan tidak melakukan perjuangan.

Berpikir positif dalam situasi seperti ini akan mendorong manusia untuk terus berjuang dan berusaha untuk tetap bertahan.

Itulah yang terus diupayakan oleh pemerintah di berbagai belahan dunia dengan berbagai macam kebijakan, mulai dari bantuan langsung tunai sampai dengan ajakan kepada masyarakat untuk terlibat membantu.

Banyak pihak, pemerintah, pengusaha, influencer atau bahkan dari rakyat kecil, terus berupaya agar semua mau berpikir positif. Mereka berusaha terus mendorong sesama untuk tidak berkecil hati dan mau berjuang bersama keluar dari kesulitan bersama.

Sudah banyak contoh bagaimana tindakan yang dilandasi sebuah pikiran positif bisa membangkitkan semangat orang lain, seperti bagaimana orang-orang tak dikenal membagikan makanan bagi para pengendara ojeg online, yang bahkan jasanya tidak pernah mereka pakai.

Hal-hal kecil seperti ini ternyata bisa mengilhami orang lain melakukan hal yang sama, berbagi kepada sesama tanpa melihat kasta, ras, atau agama.

Memang pasti sulit melakukannya, tetapi tentunya lebih baik melakukan sesuatu daripada berdiam diri dan tenggelam dalam kesedihan dan kesuraman di masa seperti sekarang.

Tapi, semua akan terserah pada diri kita masing-masing, untuk bisa menimbulkan aura positif dalam diri kita sendiri.

Tidak ada komentar untuk "Sulit Berpikir Positif Di Tengah Pandemi Corona ? Mungkin Ini Sebabnya"

Berlangganan via Email